Rabu, 23 Mei 2012

Liar Di Negeri Sendiri

Aku seperti orang asing yang berada di tengah gurun pasir Afrika, ngapain gue membayangkan diri gue di padang pasir yang tandus dan haus. Aku seperti ayam kehilangan induknya, aku menjadi liar, aku menjadi orang yang membabi buta dan penuh emosi, aku liar di negeri sendiri.




Bikin KTP ribetnya minta ampun, urusan perijinan usaha susahnya busyet dah, dan urusan kedinasan ribetnya selangit. Negeri ini seperti penjara, aku bagaikan burung dalam sangkar, mau naik keinjak mau turun tanggung dah gede gue umurnya. Pas lagi giliran antri tiket kereta api di stasiun, orang-orang pada enggak malu menyelusup ke antrian paling depan. Aku menjadi liar di negeri sendiri saat aturan tidak ditegakan dengan baik, tegas, dan benar.

Ketika saya pergi ke Singapura, saya menjadi orang yang taat pada aturan. Waktu antri tiba, saya membiasakan diri untuk mengantri. Ketika dijalan tidak ada yang merokok, saya membiasakan diri untuk tidak merokok.

Ketika saya mau membuang sampah, saya buang sampah pada tempatnya. Namun, ketika saya kembali ke negeri saya sendiri, saya kembali jadi orang yang liar. 

Defuture MomentTiba waktu antri, saya menyelusup ke depan untuk mendapat antrian paling depan. Ketika berada di jalan, saya merokok, saya buang puntung rokok itu seenaknya.

Di negeri ini saya adalah orang yang liar. Namun saya tidak sendiri, orang luar negeri pun sama saja. Mereka menjadi liar kala berkunjung ke negeri ini. Keliaran saya adalah suatu kerugian buat negeri ini. Bayangkan kalau ternyata ada satu juta, dua juta, atau bahkan seratus juta orang yang seperti saya.

Keliaran yang saya lakukan karena saya tidak diancam, karena saya tidak diatur, dan karena hukum di negara ini tidak jelas. Keliaran saya adalah karena kelalaian para pemimpin kita dalam menerapkan hukum. Keliaran saya ini adalah karena pemerintah tidak tahu sejarahnya untuk apa negeri ini dibangun. Keliaran saya ini karena pemimpin kita tidak memberikan teladan yang baik bagi kita semua.

Mudah-mudahan semua ini akan berlalu karena bagaimanapun saya cinta negeri ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar