Selasa, 07 Agustus 2012

Potret Indonesia di Bulan Ramadhan

Potret Indonesia tampaknya tidak pernah berubah. Di negara yang konon katanya kaya sumber daya alam itu, rakyatnya ternyata harus rela merogoh kocek lebih dalam untuk sekedar beli beras. Rakyatnya ternyata harus rela merogoh koceknya lebih dalam untuk sekedar membeli sayur-sayuran yang makin lama makin naik harganya. Kapankah harga akan turun? Sepertinya impian itu tidak akan pernah terwujud karena Pemerintah sendiri tidak memperhatikan nasib kaum petani dan buruh. Lebih ironis lagi, mereka yang duduk di "singgasana terhormat" justru memikirkan gedung baru, mobil baru, jabatan baru, rumah baru, samapai fasilitas wc aja pingin yang serba baru.

Selalu saja tidak pernah berubah, kelam, kusut, kusam menjadi warna dominan potret negeri kita. Kaum miskin, petani dan buruh menjadi sapi perahan sang Raja. Raja tidak pernah turun, tidak peduli nasib rakyatnya mau seperti apa. Selalu sibuk dengan Koalisi Partai, selalu sibuk dengan para punggawa-punggawanya bepergian ke luar negeri, mencari alasan untuk menghindar dari rakyatnya yang kritis karena perut mereka sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.


Mereka yang duduk di "Singgasana terhormat" hanyalah sampah bagi masyarakat. Mereka tidak akan peduli dan tidak akan tahu nasib rakyatnya sendiri, karena mereka terlalu gemuk untuk bergerak, masih terlalu kurus untuk bertatap muka dengan rakyat kecil, terlalu hina dan nista jika mereka bergaul dengan kita. Mereka adalah orang-orang pilihan, orang-orang pintar, berwatak cerdas, dan memiliki moralitas tinggi dalam bekerja. Jangankan untuk bersua dengan rakyat kecil, tugas mereka dari atasan saja sudah menumpuk untuk dikerjakan di depan laptop.

Harus diakui, Indonesia adalah negara luas. Mengurusnya pun bukan perkara gampang. Negara beribu pulau mana bisa satu kota yang nanganin. Emangnya malaysia, negara kecil, hukumnya bagus, rakyatnya juga sedikit, mereka makmur. Negara kita sangat luas, permasalahannya pun sangat besar menghinggapi negeri ini. Petani, buruh memang sudah seperti itu nasibnya, meskipun keberadaan mereka menjadi tulang punggung perekonomian kita. Mudah-mudahan di bulan suci ramadhan ini, sang Raja bisa merenungi diri, bertafakur, bertadabur. Mereka yang duduk di "Singgasana Terhormat" bisa introspeksi, bisa merenungi kesalahan-kesalahan mereka yang ngotot merasa paling benar. Bulan suci ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan, belajarlah meminta maaf kepada rakyat kecil. Karena Rakyat kecil sudah pintar sekarang, mereka sudah tahu bobroknya mental dan moralitas kalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar