Jumat, 16 November 2012

Life Change Unit: Menjadi Kutu Buku

Anda gemar membaca? Jika iya, maka izinkan saya memberikan selamat kepada Anda. Bagi sementara orang, membaca mungkin aktifitas yang tidak memberikan manfaat atau, paling tidak, membosankan.

Anggapan itu pernah juga hinggap dan mengendap di benak saya selama bertahun-tahun (seriously!), sebelum akhirnya saya mengalami apa yang dalam psikologi disebut sebagai LCU (Life Change Unit).

LCU ini berhubungan dengan saya semenjak mengecap pendidikan di perguruan tinggi. Mulai dari metoda hingga cara belajar di perguruan tinggi tentu berbeda dengan sekolah menengah atas.

Transformasi dari sma ke perguruan tinggi inilah orang jadi suka membaca karena tuntutan sebagai seorang mahasiswa yang harus mandiri. Bisa jadi karena pacaran dengan orang intelek anda secara tidak sadar menjadi keranjingan membaca.

Sejak saat itu, ke mana pun saya pergi, saya selalu menyempilkan satu atau dua buah buku dalam tas. Bagi saya, lebih baik membawa buku dan tidak dibaca, daripada tidak membawa sama sekali pada saat kita membutuhkan.

Perumpamaannya mungkin seperti sedia payung sebelum hujan. Namun berbeda, jika payung lupa dibawa, kita bisa berteduh. Hal ini tidak terjadi dengan buku, dengan membaca saya jadi tahu kenapa si Doni (sekadar perumpamaan, bukan nama sesungguhnya) yang wajahnya (maaf!), tidak lebih baik dari saya tapi dia sangat pintar, digandrungi banyak cewek karena pandai merayu, dan jago komputer.

Saya tidak peduli disebut kutu buku atau dianggap sok intelek! Sebelum masuk kuliah, saya paling malas kalau disuruh membaca. Saat itu, saya tidak melihat manfaat apa pun yang akan saya dapatkan dari membaca. Saya sangat beruntung mencicipi masa-masa kuliah dulu karena dari situlah saya bisa merasakan manfaat dan kelebihan dari keranjingan membaca buku.

Saya bisa menjadi lebih tahu dari teman-teman saya ketika dosen memberondong mahasiswanya dengan sejumlah pertanyaan dan hanya saya sendiri yang bisa menjawabnya. Saya menjadi sok berlagak pahlawan tanpa tanda jasa ketika ujian perkuliahan berlangsung, karena banyak teman-teman kuliah saya yang minta bantuan jawaban.

Saya menjadi sok puitis karena sering membaca buku-buku puisi. Saya menjadi sosok pelawak yang handal seperti mas Tukul karena saya sering membaca cerita-cerita humor. Saya menjadi pintar menulis karena saya sering banyak membaca novel populer.

Entah berapa banyak keahlian yang saya miliki karena membaca. Satu di antara empat belas tips yang diusulkan Babauta yang menarik adalah selalu membawa buku. Buku adalah kunci kesuksesan Anda di dunia. Jika Anda mau menggenggam dunia, bacalah buku.. Raihlah masa depan cerah Anda dengan membaca bukan dengan tawuran. Sudahkah anda menyempatkan waktu untuk membaca hari ini?

Ide artikel by Joe Alfaraby

Tidak ada komentar:

Posting Komentar