Sabtu, 27 April 2013

Banjir Dayeuhkolot Kabupaten Bandung

Satu lagi kawasan yang sering terkena banjir setiap tahun adalah Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Tak henti-hentinya musibah ini terus melanda masyarakat sekitarnya. Kegiatan perekonomian seringkali lumpuh akibat pertokoan, pusat perbelanjaan, dan kantor-kantor pelayanan publik terkena luapan air sungai Citarum.

banjir dayeuhkolot
Situasi di salah satu wilayah
Dayeuhkolot ketika banjir mulai surut 
Jalanan di sepanjang kawasan Dayeuhkolot seringkali mengalami kemacetan yang panjang akibat banjir. Jalanan pun semakin banyak yang berlubang dan sangat berisiko terjadinya kecelakaan. Rumah-rumah penduduk banyak mengalami kerusakan akibat genangan banjir yang bisa mencapai ketinggian 2 meter sehingga banyak warga yang mengungsi ke tempat lain.


sembako
Pengepakan barang-barang untuk
disumbangkan ke korban banjir
Dayeuhkolot
Sekali saja hujan turun pada sore hari, malamnya air sungai Citarum akan naik dan meluap sehingga besok paginya access jalan di Dayeuhkolot  tertutup karena terhambat banjir. Sekolah-sekolah, pabrik, pusat pertokoan, dan kantor publik seringkali libur ketika acess jalan tertutup.




Musibah banjir memang tak bisa dielakan, saat masyarakat tidak menyadari kesalahan membuang sampah di sungai, saat banyak pabrik yang sengaja membuang limbah mereka ke sungai, dan saat penghijauan di hulu sungai sudah tidak kelihatan karena penebangan liar dan kerakusan manusianya itu sendiri.

Musibah banjir memang tak bisa dipungkiri ketika pengawasan pemerintah setengah hati, ketika para pejabat tergiur uang suap sesaat dari perusahaan atau pabrik yang sebetulnya memberikan dampak yang sangat luas bagi tatanan kehidupan.

Upaya-upaya pemerintah pun patut kita hargai, dan saya pun melihat dan menyaksikan bagaimana pemerintah berusaha menahan laju banjir dengan membangun dinding baja di sepanjang aliran sungai, melakukan pengerukan sampah-sampah yang ada di sungai. Biaya tersebut sangatlah mahal bahkan konon katanya bisa mencapai 2 triliun Rupiah.

Namun, kita pun perlu berupaya bersama-sama dengan pihak pemerintah, selain harus memiliki kesadaran tinggi terhadap lingkungan. Pengawasan limbah pabrik pun perlu, dan harus ada tindak tegas dari pemerintah terhadap pejabat pengawasan limbah pabrik yang mudah diiming-imingi uang haram. Para pemimpin pabrik pun seharusnya sadar limbah hasil industri harus melalui proses pengolahan dulu agar tidak mencemari lingkungan sekitar.

sungai citarum
Sungai Citarum berwarna hitam akibat limbah pabrik

Biaya pengolahan limbah memang sangat mahal, tapi lebih mahal lagi jika kesehatan masyarakat terganggu akibat pencemaran air yang berbuntut pada kematian. Seringkali kita sendiri pun harus disadarkan akan bahaya pencemaran lingkungan akibat banyak berdirinya industry-industri garmen, tekstil, dsb.
sungai tercemar
Air sungai yang sudah tercemar 

Alam sudah tidak bersahabat karena ulah kita sendiri. Ulah tangan-tangan yang hanya memperkaya diri, bermegah-megah, dan tidak memiliki kepekaan sosial. Masih adakah di dunia ini orang yang mau berpikir untuk bangsa?  Masih adakah pemimpin di dunia ini yang mau terjun langsung melihat penderitaan rakyatnya tanpa harus membawa crew media  agar bisa dibilang “Peduli” melainkan Riya atau takabur?

Sungguh malang nasib bangsa ini. Bangsa yang konon katanya makmur, kaya raya tapi kenyataannya terlilit utang. Subhanallah, mudah-mudahan hari esok lebih baik lagi untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar