Senin, 29 April 2013

Kepemilikan Rumah, Indikator Kesejahteraan Buruh


Indonesia sudah 68 tahun merdeka, apakah rakyatnya sudah merdeka semua? Mungkin hanya sebagian kecil dari kurang lebih dua ratus lima puluh (250) juta jiwa penduduk Indonesia yang merasa telah Merdeka. Merdeka hati, pikiran, perasaan, dan kebahagiaan hidup.

kuli bangunan
Buruh Kuli Bangunan

Lalu bagaimana dengan nasib rakyat kecil, yang bekerja sebagai tukang parkir, pekerja serabutan, buruh pabrik, buruh tani, kuli bangunan, guru honorer, dsb. Apakah mereka sudah merasakan kemerdekaan secara pribadi yang merupakan bagian dari bangsa Indonesia.

Saya rasa belum sepenuhnya mereka merasa merdeka. Salah satu contoh kecil, kalau kita mau melihat pemandangan rumah kumuh, kos-kosan, dan rumah sewa di kawasan Industri Dayeuhkolot, kabupaten Bandung, dekat tempat tinggal saya. Banyak hal-hal yang membuat kita merasa prihatin, sedih, dan miris melihatnya.

Banyak kamar sewaan yang dihuni satu keluarga (Ayah, Ibu, dan Anak), tiga bahkan sampai lima orang tinggal dalam satu kamar. Mereka rela berimpit-impitan karena tidak punya tempat tinggal yang layak. Salah satu contoh yang bisa saja di tempat lain banyak juga hal seperti itu.

Memiliki tempat tinggal atau rumah yang layak dan sehat, bagi mereka hanya sebatas impian. Memiliki rumah sendiri yang layak adalah impian terbesar mereka. Bagaimanapun juga kepemilikan rumah adalah salah satu indikator kesejahteraan buruh untuk saat ini.

Semua manusia di muka bumi ini bekerja dan berusaha agar taraf hidup mereka lebih baik, agar hidup mereka sejahtera baik lahir maupun bathin. Begitupun dengan para buruh di Indonesia, mereka bekerja banting tulang, dari pagi sampai sore hari tujuannya Cuma satu. Agar bisa bertahan hidup dan mudah-mudahan taraf hidupnya meningkat.

Akan tetapi, upah atau gaji mereka sangatlah kecil, butuh puluhan tahun bagi mereka mengumpulkan uang untuk membeli rumah yang sederhana tapi layak huni.

Peringatan hari buruh sedunia tanggal 1 mei mendatang, haruslah menjadi langkah kongkrit para buruh dalam memperjuangkan nasib mereka untuk mendapatkan pengakuan pemerintah. Setidaknya pemerintah mau peka, peduli, dan mau membantu memudahkan urusan kepemilikan rumah yang layak bagi mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar