Sabtu, 04 Mei 2013

Eyang Subur Vs. Adi Bing Slamet


Fenomena perseteruan Eyang Subur dengan Adi Bing Slamet dkk yang sering diberitakan baru-baru ini di media cetak maupun televise mendapatkan rating cukup tinggi dalam dunia pergosipan di tanah air.

Masyarakat sangat antusias dalam mengikuti perkembangan kasus yang terjadi.  Berbagai opini publik pun bermunculan untuk mendukung masing-masing pihak yang berseteru. Kasus ini pun sampai ke ranah MUI.


Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam keterangan pers baru-baru ini di Jakarta, yang diberitakan di salah satu stasiun televise swasta mengatakan “MUI meminta Eyang Subur bertobat karena terbukti menyimpang dari akidah Islam.”

Adi Bing Slamet di vonis salah oleh MUI, karena selama 16 tahun menjadi murid kesayangannya Eyang Subur. Adi bing slamet selama ini buta mata, buta telinga, buta hati, dan buta segala-galanya (Bind Sight). 
Namun, pada akhirnya Adi Bing Slamet menyadari kalau ajaran Eyang Subur menyimpang sehingga dia mau bertobat.

Menurut Ketua investigasi MUI, Prof Dr Umar Shihab, “Eyang Subur terbukti melakukan penyimpangan akidah dan syariah Islam. Adi Bing Slamet juga telah melakukan kesalahan tetapi ia sudah tobat nasuha, Kalau Adi bing Slamet sudah tobat, Eyang subur juga harus tobat kepada Allah SWT.”

Kasus seperti ini memang sudah sering terjadi, Kasus Eyang Subur hanyalah satu dari jutaan kasus yang sering terjadi di masyarakat. Berawal dari sikap berlebihan kalangan artis yang suka mengunjungi tempat-tempat perdukunan agar untuk tujuan tertentu.

Diperkuat dengan peran media massa dalam menyebarluaskan sikap-sikap berlebihan tersebut. Sehinnga terbentuklah suatu opini di masyarakat awam bahwa perdukunan itu lumrah, artis aja makin kaya pergi ke dukun, kita bisa ko seperti mereka.

Mencermati kasus diatas, masyarakat Muslim harus lebih berhati-hati terhadap perdukunan yang berkedok agama. Kasusnya sangat banyak dan sering menimpa kalangan artis. Untuk itu, masyarakat jangan terpengaruh kadar keimanannya dengan mempercayai kekuatan spiritual manusia biasa.

Masyarakat jangan mau ikut-ikutan seperti selebritis biar dianggap gak ketinggalan jaman. Masyarakat jangan mudah tertipu atau terhipnotis orang yang mau merusak akidah. Belajarlah, galilah agama lebih dalam baik itu melalui acara-acara di televisi, maupun berguru kepada tokoh agama yang ada di sekitar kita supaya kita tidak dibodohi oleh berita-berita yang menyesatkan.

Opini publik terbentuk karena pengaruh media massa. Bangsa ini mau dibawa kemana itu tergantung dari peran media massa. Kalau opini itu baik untuk hal-hal yang positif tentu masyarakat pun akan maju. Akan tetapi, kalau opini itu kurang baik, yang terjadi malah pembodohan masyarakat.

Pola hidup, moralitas, mentalitas masyarakat, dan akhlak sangat dipertaruhkan dalam mewujudkan masyarakat yang madani. Harus ada hukum yang tegas dari pemerintah untuk mengawasi perkembangan media saat ini.

Apakah kita mau bangsa Indonesia dijajah ke-2 kalinya oleh bangsa lain, karena rakyat kita bodoh, lemah dan sering mengeluh? Naudzubillah Himindzalik… Marilah kita sama-sama perbaiki negeri ini dimulai dengan hal kecil, hal yang memang sesuai dengan kemampuan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar