Rabu, 08 Mei 2013

Malu Jadi Orang Indonesia


Pakai E-KTP masih ribet enggak? Gimana enggak ribet, kalau kita mau ngelamar kerja, mau pesen tiket Kereta Api, mau bikin SIM dan STNK, mau bikin passpor, pengajuan beasiswa, mau bikin NA (surat nikah), mau bikin KK wah kayaknya bakal ribet urusannya, Ujung-ujungnya pasti Duit lagi duit lagi (UUD).

Kalau boleh dibilang pemerintah itu perencanaan tapi tanpa persiapan, seharusnya pemerintah itu seperti kata pepatah lama “Sedia payung sebelum hujan.” Pemberlakuan E-KTP seharusnya dipersiapkan pula kompensasi adanya E-KTP itu, jangan seperti sekarang, membuat masyarakat menjadi bingung dan harus keluar uang lagi.

Bagaimana tidak, dalam surat edaran Mendagri Nomor 471.13/1826/SJ, tertanggal 11 April 2013. Di sana dijelaskan bahwa E-KTP tidak diperkenankan di fotokopi, di stapler, dan diperlakukan hingga merusak fisik kartu.

Penggantinya ada, Bunyi surat edaran tersebut “sebagai pengganti E-KTP dicatat NIK (Nomor Induk Kepegawaian) dan nama lengkap yang bersangkutan. Bila masih terdapat unit kerja atau badan usaha yang memberikan pelayanan tersebut akan diberikan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, karena sangat merugikan masyarakat pemilik E-KTP.”

“Tidak boleh di klip atau di stapler karena E-KTP yang sekarang ini dibuat dari bahan plastik sehingga bisa saja rusak. Kartu E-KTP tidak mudah patah bahkan hingga 50 kali dicoba untuk dilipat atau dipatahkan” kata Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi , saat penanda tanganan nota kesepahaman dengan Bank Indonesia(BI) terkait penggunaan e-KTP yang diwartakan di Harian Umum Pikiran Rakyat hari ini.

Senyuman Arfa maut loh
Hati-hati jangan sampai bikin sedih ya
Nah, gimana donk kalau sudah terlanjur pakai e-KTP, trus kita mau ngelamar kerja, mau bikin SIM, dan mau pesen tiket Kereta Api. Syaratnya kita kan harus ngasih fotokopi KTP, tapi kalau rusak ktp-nya, ternyata chip yang tertanam di dalamnya gak bisa terbaca oleh Card Reader karena kelalaian kita tuh.

Otomatis harus bikin lagi donk, dan jelas kalau bikin lagi, biayanya pasti lebih mahal dibandingkan dengan KTP biasa. Bikin KTP biasa aja, saya setahun yang lalu biayanya lima puluh ribu rupiah (50,000,00). Gak tahu deh kalau bikin e-KTP bisa-bisa 100-an lebih. Mahal amat sih buat jadi penduduk Indonesia.

Sudah mahal, ribet pula jadi orang Indonesia tuh. Ini teralami sama saya sebagai orangtua dari anak yang baru berumur 18 bulan. Buat bikin akte kelahiran Saja buat anak saya ribetnya minta ampun, apalagi katanya sudah umur lebih dari setahun harus di sidang, emangnya nyulik anak orang. Malu saya jadi orang Indonesia, pemerintahnya sendiri enggak peduli sama kita, yang ada dipikiran mereka cuman duit duit duit saja.

Kapan bangsa ini mau maju, kalau para pelayan publiknya rakus semua. Akan tetapi, saya selalu berdoa agar para pemimpin kita, pejabat-pejabat, dan pelayan-pelayan publik baik di kota maupun desa agar mereka diberikan kesadaran diri dan mau bertobat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar