Rabu, 15 Mei 2013

Ujian Nasional SD Dihapuskan


Kisruh yang berkepanjangan mengenai Ujian Nasional selama ini, baru ada hasilnya. Apakah masih terbatas wacana atau sudah ditetapkan. Kontroversi permasalahan Ujian Nasional berawal dari gagalnya Ujian Nasional setingkat SMA/SMK/MA secara serempak di Indonesia.
Yang terjadi, 11 provinsi mengalami penundaan jadwal Ujian Nasional setingkat SMA karena lambatnya pendistribusian soal ujian. Ujian Nasional yang diadakan sekitar tanggal 15 s.d 18 April 2013. Sebuah kesalahan yang dilakukan Kemendikbud berakibat fatal sehingga menjadi sebuah permasalahan yang besar dan menjadi kontroversi panjang dan terus dibahas sampai saat ini.

Jika saja Kemendikbud berhasil menyelenggarakan Ujian Nasional secara serempak, faktanya mungkin tidak akan seperti sekarang ini. Kegagalan penyelenggaraan Ujian Nasional setingkat SMA/MA/SMK secara serempak memang blunder Kemendikbud karena tindakan gegabahnya.

Pelaksanaan Ujian Sekolah di SMA PUQ Almarwah
Namun, siapa sih yang tidak mau serempak penyelenggaraan UN ini? Begitulah manusia, gudangnya salah dan dosa. Kesalahan itu harus diterima, dan dijadikan evaluasi untuk ke depannya.

Berita terbaru Harian Umum Pikiran Rakyat hari ini datang dari Anggota BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) Teuku Ramli Zakaria . Beliau mengemukakan bahwa “Mulai tahun depan Ujian Nasional SD dihapuskan.”

Penghapusan Ujian Nasional SD ini tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2013 tentang perubahan PP No. 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. PP baru ini telah disepakati dan ditandatangani Presiden SBY dan bisa dipastikan Penghapusan Ujian Nasional setingkat SD ini akan mulai berlaku pada tahun ajaran 2013/2014.

Lalu bagaimana dengan Ujian Nasional SMP dan SMK apakah akan dihapuskan juga? Pasti sebagian besar masyarakat setuju dihapuskan karena ketimpangan kualitas soal ujian yang cukup berbeda antara di desa atau pun kota.

Satu sisi yang saya soroti adalah perbedaan kualitas soal ujian. Pada umumnya, soal ujian yang selama ini dibuat untuk ukuran siswa yang berada di perkotaan  mungkin cukup mudah, apalagi ditunjang dengan kemampuan guru-gurunya yang oke banget tapi bukan berarti guru-guru di desa kurang bagus loh, dan lagi kecepatan informasi, perhatian orang tua terhadap dunia pendidikan yang bagus, dsb.

Kalau kita melihat siswa yang ada di daerah pedesaan, pada umumnya mereka mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal ujian. Kenapa seperti itu? Pertama mungkin minat belajar siswa yang masih kurang, orang tua pada umumnya masih berpikir dangkal dan kurang mendukung pendidikan tinggi anak karena terbentur biaya, dan akses informasi yang tidak secepat di perkotaan sehingga guru-guru bisa mengalami keterhambatan dalam menyampaikan informasi.

Yang buat soal ujian itu bisa jadi tim guru se-Indonesia yang memang memiliki kualitas sangat baik dan hanya segelintir orang dari jumlah penduduk guru di Indonesia.

Jumlah Sekolah Menengah Atas/SMK/MA menurut salah satu situs pendidikan, di Indonesia yang beroperasi saat ini adalah 27,630 (Dua puluh tujuh ribu enam ratus tiga puluh sekolah). Dari puluhan ribu sekolah tersebut kemungkinan sosialisasi pembahasan kisi-kisi UN pun belum efektif meskipun dunia internet sudah ada. Akan tetapi, apakah guru-guru di Indonesia sudah tahu dan bisa memahami internet semuanya.

Jadi hal diatas itulah yang mendasari perbedaan kualitas soal ujian di desa maupun kota. Solusi menurut pemahaman saya adalah berikan otonomi sekolah, keleluasaan penuh sekolah itu sendiri dalam penyelenggaraan ujian.

Sejauh mana kemampuan siswa? Sekolah itu sendirilah yang tahu sampai mana kemampuan siswa dan pengajaran guru terhadap siswa. Kalau sekolah sudah diberikan otonomi khusus, maka siswa pun tidak akan merasa asing dan kesulitan dalam mengerjakan soal ujian karena sudah atau pernah dipelajari.

Tidak perlu ada kebocoran soal ujian atau pengawasan yang intensif dari pihak luar terhadap kelancaran ujian karena bisa menghambur-hamburkan biaya dan pada akhirnya biaya tersebut dibebankan kepada orang tua siswa.

Bagaimana menurut pandangan anda, Layak atau tidak layakkah UN SMA dihapuskan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar