Rabu, 05 Juni 2013

Hukum Larangan Merokok

Hukum Larangan merokok sudah diterapkan, tapi apakah sudah berjalan efektif. Hukum larangan merokok sudah ada sejak dari dulu, tapi kenapa peredaran rokok dari berbagai merk semakin bertambah banyak. Tag line "Merokok dapat menyebabkan serangan jantung dan gangguan kehamilan dan janin" apakah sudah efektif. Bagaimana sikap kita, apa yang harus kita lakukan? Baca deh tulisan berikut ini.

Siapa yang suka merokok? Pasti banyak yah termasuk saya sendiri juga pecandu rokok. Kebiasaan merokok memang sulit dihilangkan dari dalam diri perokok. Rokok sudah menjadi barang yang membuat kita kecanduan dan keinginan kuat untuk merokok tidak bisa kita cegah. Berhenti merokok memang sangat sulit, perlu adanya kekuatan hukum yang tinggi dan tegas dari para penegak hukum di negeri ini.

Hukum memang sudah berlaku di beberapa tempat dan daerah di negeri ini, seperti Bandung, di Bandung sendiri sudah diberlakukan larangan merokok di tempat umum dengan denda sampai jutaan rupiah. Akan tetapi, saya masih melihat hukum belum sepenuhnya dijalankan, saya sendiri masih bebas merokok ketika berjalan-jalan di Bandung.

Penegakan larangan merokok memang tidak mudah, perlu ada kerjasama sinergis dari unsure pemerintah dalam hal ini aparat penegak hukum, ormas-ormas, dan semua masyarakat. Bagaimana caranya, dengan menerapkan penegakan hukum mulai dari tingkat pemerintahan kecil, seperti di mulai dari lingkungan desa atau RW setempat.

Penegakan hukum pemerintah pusat memang sudah tidak bisa kita percayai, bukan tidak percaya, kalau positif thingkingnya sama pemerintah, mungkin pemerintah pusat sendiri terlalu sibuk mengurusin hal-hal yang penting untuk negerinya.

Salah satu cara jitu untuk menerapkan aturan larangan merokok adalah seperti penegakan hukum larangan merokok di desa Cikidang Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah dengan menerapkan Perdes larangan merokok di tempat-tempat tertentu. Penegakan aturan ini cukup ampuh diterapkan di desa tersebut. Sebanyak 3.128 jiwa yang tinggal di desa Cikidang tanpa banyak bicara memperingati Hari Antitembakau dengan langkah nyata.

Info ini saya kutip dari Surat Kabar Pikiran Rakyat 1/06/2013. Desa Cikidang menerapkan larangan merokok di tempat-tempat tertentu seperti di rumah, tempat ibadah, sekolah, hingga perkantoran. Denda bagi yang ketahuan merokok di tempat tersebut adalah setiap batang rokok yang dihisap harus diganti dengan sebutir telur. Denda tersebut harus disetorkan ke Posyandu yang pengumpulannya dikelola oleh ibu-ibu warga setempat.

Telur yang dikumpulkan nantinya di pergunakan untuk program makanan tambahan bagi balita. Dengan ancaman sebutir telur per batang rokok yang dihisap ternyata cukup ampuh diterapkan di desa tersebut. Aturan Perdes No. 5 Tahun 2008 ternyata cukup mampu menekan angka pecandu rokok di desa tersebut.

Kepala desa Sodikun Hadi Siswoyo mengatakan; “Bukan sanksi telur yang diprioritaskan, yang terpenting justru kesadaran wargalah yang patut diacungi jempol.” Bahkan sudah puluhan warga yang sudah berhenti total merokok, saat ini banyak warga yang tidak berani merokok di rumah dan ditempat umum.

Awalnya memang pasti banyak penolakan dari warga, tapi kalau setahap demi setahap dilakukan insyaallah tujuan dan niat mulia akan tercapai.

Mulai dari penegakan dan aturan tegas dari tingkat RW atau Desa. Kalau aturan sudah dimulai dari tingkatan kecil, jika mereka bergabung, semakin lama semakin besar, dan aturan akan menjadi tegas karena sudah diterapkan di mana-mana.

Penegasan tegas dan aturan tegas akan berjalan jika sudah diterapkan di tingkatan yang terkecil. Bagaimana memulai? Mulai dari lingkungan sekitar kita, kalau sudah berhasil, mulai naik ke tingkatan berikutnya dan seterusnya seperti itu.


Indonesia bisa kalau para pemimpin dan pemerintah pusat di negeri ini mampu memberikan keteladanan yang baik dan nyata. Masyarakat sudah cerdas, bukan omong kosong yang mereka harapkan. Masyarakat mengaharapkan bukti dan kerja nyata dari para pemimpin negeri ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar