Kamis, 20 Juni 2013

Pendidikan Manja

Cerita pendidikan kali ini adalah cerita pendidikan yang memang zaman sekarang ini sangat hedonis dan selalu manja, kesan yang ditimbulkan adalah banyak para tenaga pengajar yang berpotensi baik di dunia pendidikan bak pelatih dalam dunia Sepak Bola.


Karena timnya kalah dalam lima kali pertandingan, langsung pecat pelatih. Sebentar bentar pecat, makanya tak jarang banyak klub yang memang susah untuk maju kalau ingin instan memperoleh kemenangan.

Memang bisa kalau ingin langsung berhasil seperti klub Real Madrid, Barca, MU, dll. Akan tetapi, modal yang dikeluarkan pun harus besar. Kalau merasa diri tidak mampu, yah harus bisa mengerahkan kemampuan yang ada dan mau bersabar, biarkan pelatih beradaptasi dulu, kasih waktu enam bulan sampai setahun baru bicara.

Kembali lagi ke dunia pendidikan, karena banyak siswa yang mengeluhkan cara guru mengajar yang kurang dimengerti. Atau ada guru yang karena terlalu tegas kepada siswa, mereka berani sampai melakukan kekerasan seperti memukul dengan penggaris, sapu lidi, atau cemeti.

Jaman sekarang para anak didik mudah-mudahan tidak termasuk kamu yah, mereka sangat manja, hedonis, banyak mengeluh, dan kurang sopan terhadap guru. Mereka manja dengan membawa embel-embel HAM dan Pelecehan.

Kalau mereka kurang sreg sama kebijakan guru, atau kebijakan sekolah mereka demo, kalau demo masak sih enak, ini demo turunkan kepala sekolah, copot guru yang kurang baik dalam mengajar, turunkan SPP , dan sebagainya.

Hal yang buruk dari anak akan memperburuk citra persekolahan. Bagaimanapun aturan sekolah harus ditegakan dan anak harus disiplin, patuh, taat, dan mau dididik tegas oleh sekolah demi siapa? Demi mereka, demi anak-anak, demi generasi bangsa supaya tidak manja dan mau bekerja keras.

Tantangan memang semakin berat bagi pendidik, satu sisi ingin mendidik tegas supaya anak bisa berubah. Sisi lain terbentur dengan HAM yang didengungkan KOMNASHAM.

Banyak kasus yang sering terjadi menimpa sang pahlawan tanpa tanda jasa ini. Seperti kasus penegakan disiplin seorang guru dengan mencukur rambut siswa karena tidak displin, akan tetapi dianggap pelecehan terhadap siswa. Buntutnya, sang guru di penjara, hukum memang tidak adil di negeri antah berantah, mudah-mudahan di negeri ini tidak.

Ada juga kasus pemukulan guru kepada siswa karena siswa tidak disiplin. Pemukulan kaya gimana dulu deh yang dianggap pelecehan siswa. Kalau kita berkaca ke pendidikan jaman dahulu, saya waktu sekolah SD pernah dikasih jimat ngapung sama guru olahraga.

Jimat ngapung itu kaya mencubit rambut yang ada di dahi dekat telinga, dicubit sambil ngangkat nyubitnya ke atas. Lumayan sakit sih, tapi sampai sekarang saya teringat sama guru olah raga tersebut, namanya Bpk. Wawan, guru di sd Pameungpeuk 2 banjaran Ds. Langonsari kabupaten Bandung.

Saya tidak benci dan malah kesan itu menyiratkan kenangan indah saat saat masih SD dulu. Ajaran dan penegakan disiplin seperti itu adalah wajar menurut saya, dan memory penegakan disiplin yang keras akan membekas kenangan indah di masa depan.

Terima kasih guru, sang pahlawan tanpa tanda jasa, didikan seperti ini akan membangun mental yang kuat bagi anak muda. Mental pejuang dan mental kuat akan tumbuh jika siswa dididik tegas dan penuh kedisiplinan tanpa pandang bulu.


Sudah saatnya kita tidak lagi memanjakan anak didik kita, beri mereka aturan yang tegas dan tegakan disiplin untuk perbaikan mental generasi yang kuat dan cerdas di masa datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar