Sabtu, 13 Juli 2013

Bagaimana tanggapan publik mengenai anggaran 1 triliun untuk perbaiki LP Medan?

Bagaimana tanggapan publik mengenai anggaran 1 triliun untuk perbaiki LP Medan? Statement SBY yang dimuat di salah satu stasiun televisi baru-baru ini memang kurang pantas di kemukakan di publik. Apalagi masyarakat saat bulan puasa ini sedang mengalami Inflation Syndrome.

Bagaimana tidak, masyarakat di bulan puasa ini sedang dipusingkan dengan berbagai kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan cukup parah. Naiknya harga sembako sangat mencekik warga. Kemudian muncul pernyataan SBY yang akan mengalokasikan anggaran 1 triliun rupiah untuk perbaikan LP Tanjung Gusta Medan.

SBY anggarkan Rp 1 triliun untuk perbaikan Lapas Kelas satu LP Tanjung Gusta Medan. Seberapa parahkah kerusakan LP Medan yang kemarin rusuh dan mengalami kebakaran sehingga banyak Napi yang kabur dari LP tersebut?

Wah, kalau saya dapat 1 triliun rupiah, saya akan anggarkan buat membantu pakir miskin saat bulan ramadhan ini, mereka sangat menderita akibat melejitnya harga sembako. Saya akan kasih seribu warga miskin di Indonesia sebesar 1 juta rupiah buat nutupin kebutuhan mereka selama bulan puasa.

Merehabilitasi Lapas ko segitu mahalnya sampai harus keluar 1 triliun rupiah. SBY ada ada saja nih ulahnya. Jangan-jangan sebagian anggaran mereka pakai buat kampanye pemilu 2014 nanti.

Daripada nganggarin 1 triliun rupiah buat rehab LP Tanjung Gusta Medan, mendingan urusin harga sembako yang mencekik rakyat. Lebih baik urusin harga daging sapi. Apalagi berita terbaru nih katanya harga cabai rawit nimbus harga tertinggi Rp 150,000,- di Kutai Timur.

Anggaran 1 triliun itu apakah sudah sesuai dengan perhitungan biaya kerusakan perbaikan LP Tanjung Gusta Medan, atau jangan-jangan hanya menerka begitu saja. 1 triliun itu kalau menurut logika saya yang awam, agak terlalu berlebihan.

Harus dilihat dulu berapa estimasi kerugian dan kerusakan yang terjadi di LP Medan tersebut. Kemudian dicari alternative alokasi penganggaran yang efektif dan efisien agar tidak menimbulkan gejolak publik yang berlebihan.

Mayarakat sudah banyak yang menderita, menderita karena sembako naik, menderita karena BBM naik, dan menderita karena BLSM ternyata kurang tepat sasaran.

1 komentar: