Senin, 19 Agustus 2013

Cerita Pendek Tarian Lebah Bagian I

Cerita pendek berikut ini adalah cerita pendek tentang kedahsyatan salah satu mahluk Tuhan yang kecil namun sangat istimewa. Begitu istimewanya, sampai Tuhan mewahyukan sekelumit cerita atau kisah tentang serangga pintar yang satu ini. Pada bagian kesatu saya akan menceritakan berbagai pengalaman menarik mengenai sayap Lebah. Simak aza deh ceritanya dibawah ini.




Hewan yang satu ini begitu unik dan memiliki banyak kisah yang sangat menginspirasi manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Mahluk kecil yang sangat bermanfaat bagi dunia kesehatan manusia ini begitu istimewa. Sangat istimewa karena Tuhan pun telah memberikan ilham dan wahyu kepada Nabi SAW dalam Surat An-Naml (Lebah). Banyak pelajaran yang dapat digali oleh manusia jika kita mau membaca ayat-ayat Al-Quran dalam surat An-Naml tersebut.

Salah satu kisah kali ini datang dari Bpk. Uus Kuswara, S.H. yang dulu sempat beternak Lebah di daerah Gunung Halu, Cililin, Jawa Barat. Dia beternak Lebah karena alam sekitarnya cukup menunjang dan ribuan spesies kalau dia cermati ada di sana termasuk Lebah. Ketertarikannya beternak Lebah karena dia ingin membuktikan kenapa Tuhan begitu sangat mengistimewakan serangga yang satu ini.

Dia pun takjub atas apa yang dia alami ketika beternak lebah. Begitu banyak pengalaman-pengalaman indah dan sangat disayangkan kalau pada waktu itu, sekitar tahun 90-an dia tidak bisa mengabadikan momen-momen terbaik karena belum ada alat digital yang murah dan terjangkau seperti jaman sekarang.

Satu sisi cerita dari sekian ribu cerita mengenai kedahsyatan Lebah akan saya kemukakan berikut ini disadur dari cerita Bpk. Uus Kuswara ketika dia mempelajari berbagai hal menarik yang patut dikaji manusia tentang Lebah.

Apakah sayap lebah semuanya sama? Jawabannya tidak, kalau melihat dari kacamata biasa kita pasti menganggap bahwa saya lebah itu sama. Ternyata ribuan bahkan jutaan lebah yang ada di alam ini memiliki sayap yang berbeda-beda. Begitu dahsyat Tuhan menciptakan semua mahluk dengan begitu sangat teliti.

Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari Sayap lebah ini? Dengan sayap yang berbeda-beda mencirikan bahwa Lebah ini terdiri dari Ratu, Raja, Menteri-menteri, dan Prajurit. Konon katanya dari perbedaan tersebut, mengilhami simbol kepangkatan dalam ketentaraan, kepolisian, dan lain-lain. Kalau Jenderal pangkatnya Bintang Empat, Brigjend bintang satu, Mayjend bintang dua, dsb.

Sayap Lebah pun mencerminkan gaya bahasa yang bermacam-macam, gaya komunikasi, dan berbagai tarian-tarian unik yang nanti akan saya bahas dalam cerita pendek tarian Lebah bagian II.

Getaran Sayap Calon Raja Baru

Ketika Sang Pangeran lebah beranjak dewasa dan tiba waktunya dia memimpin negara atau kerajaan, sang pangeran pun menghadap sang ratu lebah dengan getaran sayapnya yang menandakan bahwa dia mau pamit kepada sang ratu untuk pegi ke suatu tempat bersama ribuan prajurit mudanya untuk membuat kerajaan.

Berbagai isyarat gerakan sayap pada saat pertemuan sang pangeran dan ratu bisa mencerminkan adanya komunikasi diantara mereka. Ketika sang Ratu mempersilakan pangeran untuk pergi diisyaratkan dengan getaran sayap yang khas, pangeran pun menundukan kepalanya lebih rendah tanda penghormatan kepad sang ratu dan ucapan terima kasih dia isyaratkan dengan getaran sayapnya.

Sang pangeran pun pergi dengan ribuan tentara mudanya menuju tempat baru didampingi oleh menteri-menteri Sang Ratu yang sudah berpengalaman mencari tempat negara baru yang cocok buat mereka.

Adakalanya Lebah pun ternyata ada yang egois dan mau mengkudeta, pernah suatu ketika Sang Ratu mempersilakan pangeran muda untuk memerintah negara baru, Sang pangeran yang satu ini sangat sombong, dia berjalan ke arah ratu dengan tegap dan angkuh, dia tidak mau diperintah sang Ratu, dia inginnya menggulingkan sang Ratu dari istananya.

Semua itu bisa diisyaratkan dengan gerakan kepala lebah yang tidak mau menunduk, getaran sayapnya mencerminkan suara berisik, dan jalannya kesana kemari seperti menginginkan sesuatu. Namun, sang Ratu sangat tegas dan tidak pandang bulu, sang pangeran yang masih kurang pengalaman dan memiliki kelemahan di lehernya yang masih lembek dapat dicekik oleh Ratu sampai akhirnya mati.


Ribuan prajurit lebah muda pun akhirnya mengabdi kepada sang Ratu menunggu sang Pangeran baru lahir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar