Kamis, 01 Agustus 2013

Jokowi Belum Mutlak Menang Pilpres 2014

Elektabilitas pemimpin masa depan Indonesia memang didominasi oleh sosok Blusukan Jokowi. Namun, apakah benar Jokowi bakal memenangi Pilpres 2014 mendatang? Untuk wilayah Solo, dan Jakarta memang hampir 75 persen pasti memilih Jokowi sebagai tampuk pimpinan Indonesia.

Namun, itu belum cukup, Solo dan Jakarta itu hanya 5 persennya saja dari total penduduk Indonesia yang berjumlah kurang lebih 250 juta jiwa. Yang memiliki hak pilih suara di Indonesia masih ada sekitar 150 juta jiwa lagi. Kemanakah suara mereka akan berlabuh.

Pemimpin yang jujur dan adil memang dambaan semua masyarakat Indonesia. Namun, pada dasawarsa sekarang, yang dibutuhkan Indonesia tidak saja seorang pemimpin jujur dan adil, dia harus bisa mensejahterakan jutaan warga miskin di Indonesia.

Para pemimpin Indonesia sebelumnya memang telah diuji dan ternyata masih saja jutaan warga merasakan kemiskinan. Kekayaan dan klesejahteraan masih dimiliki kaum minoritas. Memimpin Indonesia memang tidak semudah membalikan telapak tangan.

Akan tetapi, jika pemimpin itu dapat memanaj waktu untuk terjun ke masyarakat miskin dan memberikan solusi yang tepat terhadap kondisi kemiskinan mereka, insyaallah seorang pemimpin tersebut amanah.

Anggaran pemerintah pusat itu ratusan triliunan rupiah, jika pemimpin kita mampu mendatangi dan memantau perkembangan masyarakat miskin, mereka pasti akan sejahtera. Enggak perlu ngurusin agenda rapat, pertemuan, dan acara-acara kenegaraan yang tidak terlalu penting menurut saya. Toh ada pejabat kabinet atau menteri yang bisa mewakili presiden.

Presiden itu cukup mengurusi rakyatnya saja yang kelaparan enggak perlu ngurusin rakyat yang sudah mapan. Tugas pemimpin adalah mensejahterakan rakyat bukan menghambur-hamburkan uang demi kepentingan-kepentingan golongan atau kelompok.

Kalau seorang pemimpin sudah bisa bertindak demikian, maka seluruh masyarakat Indonesia pun akan sejahtera. Siapakah pemimpin yang pantas untuk Indonesia menurut anda? Barangkali kalau menurut saya, 30 persen-nya pasti memilih mereka yang bisa memberikan bukti nyata terhadap kita.

20 persen akan memilih menurut kepentingan partainya masing-masing dan 50 persen akan Golput, tidak memilih siapapun terkecuali kalau para calon pemimpin tersebut memberikan mereka serangan fajar (Money Laundring) dengan membagi-bagikan uang kepada mereka yang memilih.

Apakah itu dilarang? Menurut hukum yah itu adalah melanggar aturan pastinya. Namun, masyarakat awam pada umumnya berfikir logis saja, siapa yang memberi mereka uang lebih banyak pastilah pemimpin tersebut akan mereka pilih.

Makanya tidak heran jika para calon pemimpin Indonesia sudah menumpuk-numpuk uang sebelum kampanye entah dari hasil Korupsi atau dari hasil lainnya. Elektabilitas seorang pemimpin belum tentu mutlak dimiliki Jokowi karena masyarakat Indonesia sangat heterogen dan tidak bisa ditebak.


3 komentar:

  1. untuk kedepan di butuhkan pemimpi yg kridibel dan bisa membangun stabilitas ekonomimi rakyat berjangka panjang, misalkan sepeti di rezim pa harto repelita dan gbhn ,dibuat sistim yg tidak mengenal rezim
    Jadi bangsa ini arah tujuannya jelas
    Karna setelah era pa harto sampe sekarang engga jelas tidak punya
    Kompas arah tujuan kemana?

    Biasanya pemimpin baru kebijakannya akanlain maka dari itu
    Bikinlah sistim jadikan drap jangka panjang 50 thn kedepan jadikan program,legislatip tingal duduk manis hanya pengawasan saja tidak rebutan pepesan kosong

    Jadi kesemakmuran ada harapan untuk rakyat kedepan,dengan begitu penggantian pemimpin seterusnya menjalankan sistim yg sudah di terapkan.

    BalasHapus
  2. Betul kang, saya setuju, setelah era rezim Pak. Harto kompasnya macet.

    BalasHapus
  3. Mang ade mukin ingat, waktu pa harto lenser repelita tinggal landas kalo di teruskan programnya ekonomi negara kita bisa bersaing dengan cina, sampe kearah setrategi diwaktu itu dunia mengakui indonesia macan asia sekarang jadi macan ompong,dan negara kita sebagai agraris sudah di bangun oleh pa harto begitu hebat
    Sekarang engga bisa merawat bedungan
    Bocor engga bisa nambal,jadi saya salah kan partai arau politisi
    Hanya memikirkan jabatan tidak berpikir bangsa ini tidak punya jiwa nosionalis ,rakyat kita masi menungu
    Kapan berahir sadiwara ini darang kesemamuran dan merdeka.

    BalasHapus