Selasa, 20 Agustus 2013

Religius Invisible Hands

Rencana Pemerintah menaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) di awal Juli 2013 sudah terealisasikan. Harga bensin pun sudah diputuskan naik 2.000 rupiah menjadi 6.500 rupiah per liter. Aksi demo ribuan masyarakat, buruh, dan mahasiswa yang turun ke jalan menentang kenaikan harga BBM pun tidak berpengaruh.

Gonjang ganjing isu kenaikan yang semula menyeruak di awal bulan April 2013 membuat jantung semua masyarakat, pengusaha, dan buruh pabrik berdegup kencang memikirkan nasib mereka esok hari. Para pengusaha sudah berancang-ancang melakukan pemangkasan karyawan akibat naiknya biaya produksi.

Masyarakat sibuk menimbun dan menyetok BBM dan sembako yang disinyalir harga bahan-bahan kebutuhan pokok akan melambung tinggi karena bertepatan dengan masuknya bulan suci ramadhan. Buruh takut di PHK dan tidak mendapa uang pesangon.

Alhasil, kenaikan BBM pun tidak bisa dielakan, harga-harga sembako pun ikut melambung tinggi dan korban PHK pun mulai berjatuhan.

Apa yang harus kita lakukan? Masih tidak puaskah kita terhadap keputusan tersebut? Apakah kita masih mau demo menentang keputusan pemerintah tersebut? Apakah keputusan tersebut menyengsarakan rakyat? Apakah anda sengsara atau miskin?

Miskin atau kaya, baik atau buruk, benar atau salah, setuju atau tidak setuju, demo atau tidak demo, naik atau turun semuanya itu kodrat atau ketentuan Allah. Allah yang menentukan kenaikan atau penurunan harga, Allah yang menetapkan harga itu naik atau turun, bukan manusianya itu sendiri.

Bagi kita selaku manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Kenaikan harga BBM yang berbuntut kepada kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok adalah ujian dari Allah SWT.

Yang namanya ujian harus disikapi dengan penuh keyakinan dan kesabaran. Yakin bahwa apapun keputusan para pemimpin kita adalah keputusan terbaik dan sangat positif yang akan mengantarkan kita kepada suatu kebahagiaan meskipun untuk sementara waktu keputusan yang dibuat tidak sejalan dengan logika pemikiran kita sebagai manusia biasa.

Para pemimpin kita sudah berjuang keras, menimang-nimang berbagai dampak dan akibat dari berbagai keputusan yang mereka ambil. Untuk siapa keputusan itu dibuat? Tentunya untuk kepentingan masyarakat secara umum bukan untuk kepentingan diri mereka sendiri.

Harga sembako (sembilan bahan pokok) akan terus melambung tinggi sementara waktu seiring dengan datangnya bulan suci ramadhan. Tibanya bulan suci ramadhan menyebabkan harga sembako dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya mengalami kenaikan. Dan itu terjadi hampir setiap tahun seperti itu.

Akan tetapi, tahun-tahun sebelumnya pun kita bisa merayakan hari besar umat muslim sedunia dengan penuh sukacita, penuh limpahan rahmat, berkah, dan kebahagiaan. Itu semua datang dari Allah SWT setelah kita melewati bulan suci ramadhan dengan penuh keyakinan dan kesabaran.

Apakah kenaikan harga pernah terjadi di jaman Rosululloh SAW.? Dalam salah satu tulisan asuhan Amin Muchtar tentang “Harga kebutuhan nikel, kaimanan kudu beuki kandel.” Di Majalah “Iber” no. 531 yang terbit 15 April 2013, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a; Di jaman nabi Saw. 

Pernah terjadi kenaikan harga barang dan kebutuhan pokok. Ketika itu, beberapa sahabat nabi datang ke tempat Beliau. Mereka mengeluhkan permasalahan kenaikan harga dan meminta Rasul memberikan solusi terhadap keluh kesah mereka.

Salah satu sahabat berkata; “Ya Rasululloh, belakangan ini harga barang-barang melambung tinggi dan menyengsarakan kami. Tolong berikan kami solusi untuk menetapkan dan mengatur kenaikan harga tersebut.”

Nabi Saw pun menjawab: “Sesungguhnya Allah-lah dzat yang menentukan harga, yang menyempitkan dan meluaskan rizki, Allah-lah pemberi rizki. Dan sesungguhnya aku berharap bertemu Allah dalam keadaan tidak dituntut siapapun dalam urusan nyawa dan harta karena saya takut berbuat dzalim.”

Menurut nabi Saw. Hanya Allah-lah yang menentukan kenaikan dan penurunan harga, kalau pun pemerintah memutuskan kenaikan harga, sesungguhnya itu takdir dari Allah. Selama anda berusaha dan berdoa disertai penuh keyakinan dan kesabaran. Allah pun berkehendak meluaskan rizki hambanya yang mau berusaha dan bersabar.

Hadits diatas mengisyaratkan kepada kita akan kekuatan Allah yang menentukan segala sesuatu terjadi di muka bumi ini seperti halnya kenaikan dan penurunan harga. Salah satu kekuatan yang akan mendorong majunya perekonomian suatu Negara adalah stabilitas harga dalam suatu mekanisme pasar.

Stabilitas harga akan dicapai jika mekanisme pasar yaitu mekanisme permintaan dan penawaran mencapai titik ekuilibrium (keseimbangan). Stabilitas harga berdampak pada stabilnya mekanisme permintaan dan penawaran. Jika harga naik, maka permintaan turun dan penawaran naik selaras dengan teori Supply and Demand.

Bagaimana menyiasati kenaikan harga, harus ada peran serta pemerintah dalam mengontrol mekanisme pasar seperti kompensasi untuk kenaikan BBM, subsidi untuk beras dan sembako jika harga sembako di pasaran naik. Dalam jangka waktu tertentu mekanisme pasar akan dengan sendirinya (sunnatullah) mencapai titik Ekuilibrium (Keseimbangan antara permintaan dan penawaran).

Mengapa sunnatullah? Karena itu sudah ketentuan dan ketetapan Allah, Allah yang menetapkan kenaikan dan penurunan harga, Allah yang mengatur mekanisme supply and demand. Kalau bahasa kerennya  Bapa Ekonom barat, Adam Smith namanya Invisible Hands.

Menurut Adam Smith, mekanisme pasar diatur oleh tangan-tangan yang tidak Nampak. Sebetulnya, kalau dilihat dari sisi religious invisible hands bisa dikatakan God Hands (Tangan-tangan Allah). Jadi, teori tersebut sudah ada sejak jaman Rasul dan kemudian diadopsi oleh para ekonom barat.

Salah satu dahsyatnya Islam sebagai agama samawi itu seperti teori diatas. Baru salah satu sisi dari berjuta-juta keilmuan dan pemikiran yang masih belum tergali. Jika kita mau meyakini sesuatu, yakinilah agama Allah yang satu ini, Islam.



Karena Agama Islam sebagai agama rahmatan lilalamin telah menunjukan bukti-bukti keilmuan dan pedoman cerdas bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar