Rabu, 18 September 2013

Cerpen Rajin Menabung

Sebuah cerita yang akan saya tulis kali ini adalah tentang kisah seorang anak manusia yang rajin menabung dan ketika beranjak dewasa, dia pun menjadi orang yang sukses di kemudian hari. Cerita teladan yang satu ini mudah-mudahan bisa membuat Anda terhibur.

Terlahir dari keluarga miskin, tak lantas membuat Rita patah semangat dalam mengejar cita-cita. Justru karena kemiskinan yang dialaminya, membuat anak gadis ini begitu tegar dan tekun dalam belajar. Tidak hanya belajar yang dia tekuni, dia senang berwirausaha sedari kecil. Kini diusianya yang masih muda, dia sudah menjadi pemilik jongko di salah satu pasar tradisional di Bandung Selatan.





Omset dagangannya konon telah mencapai jutaan rupiah per hari. Sungguh suatu berkah bagi Rita dan keluarganya. Dengan kesuksesannya dalam berwirausaha, Rita dapat membiayai sekolahnya sampai ke jenjang Perguruan Tinggi dan tentunya kebutuhan keluarganya sangat terjamin.

Rita kecil adalah seorang anak gadis yang tidak manja, dia adalah anak ke-2  dari pasangan Pak. Ujang dan Bu. Teti. Semenjak kecil, Ibunya sering mengajak dia untuk berdagang di pasar. Pak. Ujang yang sehari-harinya hanya buruh kuli bangunan, penghasilannya pun tidak tentu, kadang seminggu bekerja kadang tidak.

Sedangkan Ibunya, dia adalah pedagang sayuran di pasar, dengan menyewa meja kecil. Waktu jualannya pun sangat pagi sekali sekitar jam 3.30 WIB sampai jam 9.00 pagi itupun kalau di pasar masih ramai pengunjung. Dalam sehari, Ibunya bisa mendapat keuntungan bersih sekitar 20 sampai 30 ribu rupiah.

Namun, penghasilan kecil tak membuat Ibunya putus asa, dia terus berjualan sampai anak gadis ini sukses.
Setiap pagi, Rita sudah terbiasa bangun dan ikut jualan bersama ibunya ke pasar, dia pun sangat pandai menawar-nawarkan dagangannya kepada pembeli seperti Ibunya.

Setiap ada yang lewat dan melihat-lihat sayuran dagangannya, Rita pun dengan sigap mengeluarkan kata-kata yang ampuh agar pembeli tertarik.

Rita: “Ayo bu sini silakan dilihat dulu sayurannya, insyaallah sayuran-sayuran ditempat ini terjamin kebersihannya, karena saya sudah mencucinya beruang-ulang supaya bersih”
Pembeli: “Wah.. masih kecil sudah pandai jualan yah, berapa umurmu nak?”
Rita: “10 tahun bu, kebetulan saya lagi bantu Ibu jualan!”
Pembeli: “Hebat nak, kalau boleh tahu nanti kalau sudah besar adik kecil mau jadi apa?”
Rita: “Aku pingin jadi Dokter bu, biar orang-orang miskin dapat berobat gratis sama saya”
Pembeli: “Subhanallah.. cita-citamu sangat luar biasa, nih Ibu beli wortel aja satu kilo, berapa harganya?”
Rita: “Baik bu, harganya 1.500 rupiah”
Pembeli: “Owh iyah lupa nak, Ibu juga mau beli Daun Singkong 5 ikat yah”
Rita: “Siap Bu, nih sudah saya bungkus, jadi semuanya 2.750 rupiah.
Pembeli: “Makasih ya nak, semoga dagangan ibumu cepat laris, Assalamualaikum!”
Rita: “Waalaikum salam, makasih atas doanya Bu!”

Begitulah Rita ketika berdagang membantu ibunya di pasar. Setelah adzan subuh, Rita pun bergegas masuk ke mesjid yang ada di dekat pasar untuk shalat dan tak lupa selalu berdoa disetiap selesai sembahyangnya.
Setelah keluar mesjid, sudah nampak ayahnya di luar pintu akan menjemput Rita ke rumah untuk siap-siap berangkat sekolah.

Rita: “Wah Bapak sudah nungguin Rita dari tadi!”
Pak. Ujang: “Enggak ko, Bapakmu juga baru selesai shalat nih, ayo kita pulang!”
Rita: “Ayo pak, owh iyah kebetulan hari ini ada PR Matematika, tadi malam enggak sempat ngerjainnya karena keburu ketiduran!”
Pak. Ujang: “Ayo buruan donk kalau begitu, nanti keburu telat pergi ke sekolahnya!”
Rita: “Iyah pak!”

Rita juga suka telat ngerjain PR yah? Katanya karena kemarin tugasnya menumpuk, Rita pun enggak keburu ngerjain satu lagi tugasnya, yaitu PR Matematika. Tapi, Rita sangat pandai Matematika ko, nilai Matematika di rapornya pun sembilan, jadi sengaja Rita ngerjain Matematika-nya di akhir.

Matematika adalah salah satu pelajaran yang Rita sukai, mungkin karena kebiasaannya ikut dagang sama ibunya makanya Rita enggak aneh kalau nilai Matematikanya lumayan tinggi.

Apa yang membuat Rita sukses hari ini?
Kalau suka dikasih uang jajan ma ibunya, Rita tak lantas mengeluarkan semua uangnya untuk jajan, dia rajin menabung di sekolah atau di rumahnya sendiri dengan membeli celengan. “Sedikit demi sedikit lama-lama akan menjadi bukit” pepatah itu terus tertanam dalam benak anak gadis kecil ini.

Setelah 5 tahun ibunya berdagang di pasar, kebetulan ada jongko besar milik tetangga yang mau dijual. Konon tetangga ibunya Rita ini mau merantau ke Kalimantan ikut program Transmigrasi pemerintah. Saking butuh uang, tetangganya menjual jongko itu dengan harga murah, sebesar 10 juta rupiah tahun 2005.

Ibu dan ayahnya Rita pun pingin membeli jongko tersebut karena proyeksi mereka ke depan jongko tersebut dinilai strategis karena letaknya paling depan gerbang utama pasar.Namun, mereka Cuma punya uang 8 juta rupiah.

Rita pun ikut bicara dan memberikan kabar bahagia buat orang tuanya:
Rita: “Beli saja bu, kalau sisanya nanti pakai aja tabungan Rita dulu”
Ibu: “Paling tabungan Rita cuman sedikit, enggak akan cukup buat nambahin beli jongko tersebut”
Rita: “Enggak bu, kebetulan tabungan Rita yang sudah lima tahun Rita simpan nih jumlahnya lebih banyak dari sekedar buat nambahin buat beli jongko”
Ibu: “Emang tabungan Rita ada berapa? Ibu jadi penasaran dengarnya!”
Rita: “Alhamdulillah bu, ada 2.575.000,00,- rupiah sama yang di sekolah”
Ibu: “Alhamdulillah Ya Allah, ternyata ibu punya anak yang baik hati dan rajin menabung”
Pak. Ujang: “Maksih anakku, nanti ayah sama ibu pinjam dulu uangnya, kalau udah ada nanti ayah ganti yah.”
Rita: “Enggak perlu diganti pak, yang penting ayah sama ibu punya tempat tetap dulu untuk berdagang yah”
Ibu: “Makasih, ibu sayang banget ma Rita, nanti kalau Rita sudah dewasa, ibu ingin Rita yang lanjutin usaha Ibu dan ayah, siapa tahu kalau Rita yang lanjutin, usahanya bisa tambah maju dan besar enggak kaya sama ibu dan ayah, maklum ayah dan ibu enggak pernah sekolah.”
Rita: “Ah ibu bisa aja, insyaallah ya bu, tapi Rita enggak janjji yah”

Setelah ibunya memeiliki jongko, seiring dengan berjalannya waktu, dan pengunjung pasar pun semakin berjubel, usaha ayah dan ibu Rita pun semakin maju. Apalagi kini Rita sudah besar dan dewasa, usahanya pun semakin besar pula ditunjang pendidikan dan pengetahuan Rita yang semakin luas.


Jika kita mau berbuat sesuatu yang besar, lakukanlah semua itu dari kecil seperti rajin menabung. Kalau tekad kita kuat, maka cita-cita pun akan tercapai. Man Jadda Wa Jadda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar