Rabu, 18 September 2013

Proses Berfikir Positif

Salah satu sifat seorang pemimpin adalah Mental dan kecerdasan berfikir demi terwujudnya penanaman nilai bawahannya yang terus dipupuk dengan baik mengesampingkan perasaan terlebih dahulu. Dalam hal ini ketegasan dan kedewasaan berfikir.





Namun, kadangkala perasaan seringkali mengalahkan logika berfikir positif. Seperti contohnya apakah siswa yang dilibatkan untuk membantu pembangunan pengecoran gedung baru sekolah perlu dibayar atau tidak. Pengalaman ini saya alami sendiri kemarin-kemarin ketika ikut diperbantukan sebagai panitia pembangunan salah satu gedung baru di salah satu sekolah menengah kejuruan di Bandung Selatan.

Waktu itu dari total sekitar 250 siswa sekolah, kalau kami mengikutsertakan semuanya mungkin kegiatan pembelajaran jadi terganggu, makanya pihak sekolah memutuskan untuk mengambil beberapa orang yang ikhlas dan ridho mau membantu dan memberikan sumbangsih tenaga untuk membantu pembangunan gedung sekolah.

Pekerjaan pengecoran dimulai dari pukul 9.00 WIB sampai Pukul 16.30 WIB baru selesai. Untuk para siswa yang membantu kami telah menyiapkan semacam liwet alakadarnya dan Aqua sebanyak-banyaknya karena kita yakin tenaga mereka akan terkuras dan dehidrasi apalagi menjelang siang hari.

Pengecoran memang butuh tenaga dan kesiapan fisik yang kuat, dan alhamdulillah berkat pengabdian dan perjuangan keras 33 siswa dan buruh pengecoran selesai. Kami pun selaku pihak pengelola sekolah mengucapkan banyak terimakasih yang sebesar-besarnya kepada para siswa yang turut membantu dengan ikhlas dan tulus kepada sekolah.

Kami ingin menanamkan betapa ketulusan hati itu akan menjadi cerminan kedewasaan berfikir dan keikhlasan hati jika kelak mereka menjadi dewasa dan terjun di dunia masyarakat yang heterogen. Ketulusan adalah ladang amal dan pahala baik di dunia sekarang maupun di akhirat nanti.

Para siswa adalah anank didik kita semua yang harus dibina, dididik, dan ditanamkan nilai-nilai perilaku, ketulusan, dan keikhlasan yang akan menjadi bekal mereka di masa datang. Jiwa-jiwa yang masih polos dan sangat labil dan mudah terpengaruh hal-hal negatif harus kita bimbing dan bina ke arah penanaman nilai-nilai luhur yang baik yang akan mereka petik hasilnya suatu saat nanti.

Perasaan memang tidak bisa kita pungkiri, kita semua pasti sangat berperasaan dan itu adalah hal yang baik. Melihat para siswa yang begitu bekerja keras kita pasti merasa ingin sekali memberikan sesuatu yang lebih karena hasil kerja keras mereka. 

Namun, kita harus mengedepankan penanaman nilai-nilai ketulusan dan bakti mereka untuk sekolah ini, karena kita yakin hasil dari penanaman nilai-nilai positif kepada mereka akan sangat berguna untuk proses kehidupan mereka di masa datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar