Kamis, 14 November 2013

Kepalsuan Di Bulan Nopember

silvie

Hujan di sekitar rumah tak juga surut malam ini, waktu hampir menunjukan pukul 10 malam, istriku dan anakku pun tertidur lelap. Bertemankan secangkir teh dan sepotong kue pikiranku terbawa oleh lamunan dan khayalan tingkat dewa, jauh melintas ke langit ke tujuh. Aku terbawa ke dalam melodi hidup satu tahun yang lalu.


Entah kenapa bayangan sesosok gadis cantik, tinggi semampai, bibir tipis, dan rambut panjang yang tergerai lurus singgah ke dalam pikiranku saat ini. Setelah meneguk teh manis dalam-dalam, melodi memori kembali melantunkan untaian-untaian nada yang indah.

Lagu kenangan itu teringat jelas dan terngiang indah di pikiranku. Pikiranku melayang tinggi di angkasa, aku adalah sesosok elang yang sedang kehausan mencari mangsa di tengah hiruk pikuk lalu lalang ribuan manusia yang lewat dihadapanku.

Melodi memori terdengar indah dalam lamunanku, meskipun sekarang ku tidak sendiri lagi alias bang toyib. Dua tahun kemarin memang istri dan anaku tinggal berjauhan, hanya dua kali kesempatanku untuk menengok mereka.

Tinggal berjauhan memang mengundang segala keburukan, kejahatan, dan nafsu bejat sang raja api yang selalu mengganggu dan menggoda setiap langkah dan kehidupan kita. Aku pun sendiri sempat terhanyut ke dalam lingkaran Sang Raja Api.

Sesaat ku tergoda dan terbawa alunan melodi memori indah dengan sang dewi. Pikiran yang kalut, dan nafsu yang membara ketika itu tidak terbendung. Keberanianku memuncak dan mengorbit di langit yang tinggi.

Sang Dewi menyapa dan membuka diri untukku dan siap melayaniku dengan seluruh jiwa dan raganya. Aku bagaikan kapas yang bergelung-gelung di angkasa merajut tali kasih bersama Sang Dewi yang baru saja ku kenal.

Istri dan sang buah hati pujaan yang sedang menikmati mimpinya ketika itu, aku malah terhanyut buaian sang Melodi memori malam. Berdansa di tengah alunan musik dan lagu yang begitu jelas terbayang dalam memori indah buatku. Tapi buat istriku, mungkin itu adalah suatu buaian yang hina.

Jika dia tahu apa yang pernah melodi memori aku alamin, mungkin itu bisa jadi laksana petir menyambar di siang bolong, aib yang sulit diterima secara akal sehat, atau laksana kadal memakan gurita. Hidup seakan menertawakan dia karena sang Fajar selingkuh dengan Bulan.

Tapi itulah sebenarnya yang terjadi, Sang Fajar berselingkuh dengan bulan di siang hari yang terang benderang. Terlalu cepat untuk ku selesaikan lamunan melodi memori nan indah ini. Meskipun hati ini milik sang sang Mentari, tapi ku tak kuasa menahan bulan ingin menyinari sang Fajar yang kesepian.

Apapun adanya dirimu, bagaimanapun keadaan dirimu sekarang ini, aku akan tetap selalu always dan tidak pernah never setia dengan Sang Mentari dan Buah Hatiku tercinta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar