Senin, 18 November 2013

Polisi Legok Lewang

gambar karikatur
Polisi.. Polisi.. Polisi.. Pernah nemuin Polisi Jujur di Jalan? Seribu kisah dan cerita tentang Polisi gadungan dan Polisi enggak bener. Banyak polisi yang berkedok razia lalu lintas, tapi di satu sisi cari duit sampingan buat ngedugem, pesta, foya-foya. Sulit nyari Polisi yang jujur, seribu banding satu, dan Polisi gadungan dan Polisi enggak jujur sudah enggak asing lagi di telinga, mungkin kalau diceritain satu-satu enggak akan habis satu buku.


Kisah tentang Polisi gadungan memang sudah sering di dengar, kalau anda punya, share aja di sini. Salah satu contohnya adalah tentang kisah Polisi Legok Lewang yang satu ini. Sebut saja teman saya tersebut bernama Dedi, dia satu dari sekian banyak orang yang pernah kena Razia di daerah Legok Lewang Cimaung, jalan yang mau ke arah Pangalengan.

Waktu itu kejadiannya siang hari, Dedi di suruh Ibunya beli Buku 2 pak untuk adiknya yang masih sekolah, kebetulan adiknya mau memasuki sekolah kelas lima SD masuk tahun ajaran baru. Dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke Pasar Banjaran untuk beli buku.

Dengan mengendarai motor, dia lalu bergegas pergi ke pasar Banjaran dan membeli buku. Setibanya di Pasar, Dedi langsung membeli 2 pak buku yang harganya 47 ribu rupiah. Ibunya tadi memberi Dedi 50 ribu rupiah, sehingga ada kembalian uang 3 ribu rupiah. Sisa kembaliannya dia masukan di kantong plastik bersama 2 pak buku tersebut.

Kemudian Dedi pun bergegas untuk pulang ke rumah karena buku yang di pesan sudah dia beli. Namun, ketika di lewat tikungan Legok Lewang Cimaung, di diberhentikan secara tidak hormat oleh Polisi dan menyuruh Dedi meminggirkan motornya.

Dedi pun santai saj dengan perlakuan Sang Polisi, karena Motor yang dia kendarai memang persuratannya lengkap, Dedi pun perlahan mengeluarkan isi Dompetnya yang kosong yang hanya berisikan SIM dan STNK. Dia lalu menyerahkan surat tersebut ke Polisi.

Dedi mengira kalau permasalahan sudah selesai dengan memberikan SIM dan STNK motor,namun permasalahan bukan dari kelengkapan surat tersebut. “Aneh ni Polisi ko lama amat menahan SIM Gue” Dedi enggak sadar karena dia pake headset di telinganya.

Ketika dia membuka Headsetnya, lalu Polisi pun berkata:

Polisi : “Pantas saja dari tadi teu ngadenge (Enggak dengar), eta jejewir teh di sumpel (Telinga ditutup)!!
Dedi : “Oh maaf Pak! Tapi say sudah menyerahkan surat-suratnya sama Bapak kan?
Polisi : “Masalahnya spion kamu enggak pake kaca spion standar kaya orang lain!!

(Dalam hati Dedi pun berkata :”Wah ini Polisi sudah enggak bener, padahal surat sudah lengkap, tapi dia nyari-nyari masalah supaya dapat duit”

Dedi : “Silakan saja Pak, Tilang saya, kebetulan rumah saya dekat ko, saya tinggal naik angkot saja”
Polisi : “Kamu punya berapa duit?
Dedi ; “Wah Pak, saya enggak punya duit nih, dompet saya pun kosong, lihat aja deh ma Bapak! Bukan apa-apa pak, saya disuruh Ibu saya buat beli buku, nih saya sudah beli buku buat adik saya, sisa kembaliannya cuman tiga ribu rupiah aja. Ni terserah Bapak, mau ditilang silakan, saya tinggal naik angkot saja, cuman seribu ko!

Polisi : “Emang rumah kamu dimana?
Dedi :” Lihat saja Pak  di SIM, itu ada alamat Saya!!
Polisi : “Ya sudah tiga ribu kesinikan, awas lampunya benerin, masih banyak motor yang harus saya tilang!!

Dedi pun pergi dengan selamat dan menyerahkan sisa kembalian buku yang tiga ribu rupiah kepada Polisi.
Gila bener, uang tiga ribu aja diembat ma dia, maksain banget tu Polisi, emang Polisi enggak bener, tadi katanya Kaca Spion yang bermasalah, kenapa malah suruh benerin Lampu! Ada-ada aja tuh Polisi, tiga ribu aja dia embat, kalau bahasa sundanya kadedemes (Maruk).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar