Kamis, 28 November 2013

Puisi Ayah Bunda

Sosok tubuh mungil ini menanti belaianmu, kau adalah Pelangi di mataku. Memiliki kedua orang tua yang masih sehat bugar adalah kebahagiaan hakiki dalam hidup seorang anak. Ayah dan Ibu adalah Permata dan Mutiara duniaku. Sungguh tak terkira dan tidak akan terbalaskan semua kebaikan hati dan perjuanganmu untuk membesarkan ananda tercinta.

Tidak banyak yang bisa kuberikan untuk membalas kebaikan Ayah dan Bunda. Hanya sebuah puisi yang tak berarti di mataku, namun akan lebih sangat berarti jika puisi ini kukirimkan untukmu Ayah dan Bunda.

Rindu  Ayah

Oleh: Intan Oktaviani

Tetes air mata ku
Menetes dan terus menetes
Hati yang hambar
Jiwa yang tak tenang

Ayah….
Aku rindu ayah
Aku sayang ayah
Ayah kau sgalanya bagiku

Ku kenang semua memori tentang mu
Ku kan terus meneteskan air mataku
Memikirkan mu ayah hati ku bergores
Luka yang begitu dalam..

Dimana ayah..?
Ayah dimana..?
Aku rindu ayah..
Cukup aku yang tau segalanya..

Menanti kedatangan mu AYAH

Oleh: Laelasari

Saat ini ku membutuhkan mu….
AYAH…
Kau dimana ? apakah kau lupa..
Lupa akan diriku.. AYAH….

Jika kau mengerti AYAH..
Saat ini ku rindu akan dirimu
Ingin rasa nya aku dapatkan semua
Belaian kasih sayang mu AYAH..

Tapi nyata nya….
Ku tak mendapat kan nya .
Sangat pahittt.. perkataan mu AYAH….
Kau berkata bahwa aku bukan permata hati mu AYAH…

Ya alloh berikan lah SURGA ku
Untuk AYAH ku disana, Jaga lah dia dalam jalan mu ..
Aku selalu MENUNGGU mu AYAH…
Meski AYAH tidak akan datang menemuiku Lagi..

Diantara Seribu Bintang

Oleh: Nur Aini

Diantara seribu bintang
Ada satu yang berpijar
Diantara bunga yang mekar
Ada satu yang berduri

Aku ingin jadi satu yang berbeda
Diantara yang ada
Tapi sayang aku bagian dari kebanyakan

Alangkah bahagianya hamba tuhan
Jika akusatu dari seribu
Yang senantiasa suci bagimu

Ibu

Oleh: Aulia Rahmi Fuji S

Telapak kaki yang mengeras
Kepalan tangan yang membeku
Kau buat semua kesucian dan ketulusan
Seakan tanpa kelelahan yang terasa

Deraian keringat sebagai kalung hiasan tubuh
Dan cucuran bau matahari
Yang membaluti nya kau tampak tegas dan legas
Membahanaku

Tiada sedih dan tiada duka
Walau hanya kemelut selalu mendera
Bagai gelegar nya petir yang membelah langit
Tapi kau tetap junjung demi buah hatimu

Walau tak tentu masa depan nya
Wahai ibu………………………………...
Terimakasih semangat mu sebagai pacuan hidup ku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar