Rabu, 11 Desember 2013

Orang Miskin Tapi Sombong

Orang miskin tapi sombong ada enggak yah? Eh jangan salah, jaman sekarang itu banyak lo orang miskin yang sombong, angkuh, maksa lagi. Jadi kalau boleh dikatakan nih, ternyata sebenarnya bukan orang kaya yang disebut sombong itu. Akan tetapi, orang miskinlah yang sombong.


Coba deh kita buktikan dengan kacamata kalimat persfektif memakai algoritma instruktif dan destruktif sehingga sedikit merusak daya jual beli masyarakat Indonesia. Ada Pak Haji di desa saya yang sangat kaya, dia duduk di teras depan rumahnya, tiba-tiba ada pengemis datang.

Nih pengemis sudah pasti ada maunya. Dan maunya itu bukan buat jadi selirnya pak haji atau minta dibeliin ro bot. Maunya pengemis bukan sembarang mau, yang dia mau pasti berhubungan dengan urusan perut. Kalau pengemis tidak dapat duit dari hasil pengemis, itu namanya bukan pengemis, tapi pecundang atau kalau dalam bahasa kerennya Looser.

Ta[pi kalau pengemis berhasil menyihir si pak haji sehingga pak haji merelakan uang sepuluh ribunya untuk si pengemis tadi, itu bukan pengemis, tapi motivator handal atau kalau dalam perdukunan disebut hipnotis. Dan kalau si pengemis itu enggak mau minta-minta sama Pak Haji, itu pengemis Gila. Sudah miskin tapi sombong enggak mau minta-minta.

Kalau Pak Haji, dia punya alasan kuat kenapa dia duduk di teras depan rumah. Alasannya karena Pak Haji ingin menunggu pengemis lewat dan bisa bersedekah demi pahala sunah dan rosul. Kalau pak Haji tidak mau ngasih kepada pengemis, Pak Haji itu bukannya sombong, mungkin saja Pengemis itu kurang bisa menghipnotis atau menyihir Pak Haji jadi Kodok. Atau pengemis itu tidak pakai kemeja berdasi saat bertatap muka dengan pak haji.

Yang harus disalahkan adalah Pengemis itu sudah miskin tapi sombong. Kenapa? Karena kalau dia sopan dan mau berpakaian layaknya Sang Raja Dangdut Rhoma Irama dan melantunkan Lagu Terlalu.. Sudah pasti Pak Haji bukannya memberi yang ada malah ngumpet ke dalam rumah karena pengemis itu sudah miskin, sombong lagi.

Sudah miskin sombong lagi, enggak akan maju-maju hidupnya, terus saja berkutat dengan segala permasalahan kemiskinannya. Kenapa dia miskin, karena dia sombong enggak mau datengin tuh konglomerat-konglomerat kaya Indonesia. Coba kalau dia datengin satu hari satu aja. Sudah pasti dia tidak akan miskin lagi, mungkin mati karena dibakar hidup-hidup ma masyarakat sekampung.

Begitulah nasib orang miskin tapi sombong. Mudah-mudahan kita semua pada prihatin yah dan mau merelakan sebagian sisa-sisa potongan tubuh kita untuk mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar