Jumat, 28 Maret 2014

Galau Jadi Presiden

Galau jadi presiden, galau jadi anggota dewan, belum saatnya Anda galau jadi presiden atau galau jadi anggota dewan karena masa penentuan siapa yang menjadi Presiden Indonesia dan Anggota DPR/MPR pusat masih beberapa hari lagi.






Akan tetapi, kalau anda kalah dalam Pemilu, apakah mungkin Anda merasa galau tingkat dewa atau super galau. Betapa tidak, modal materi dan fisik sudah Anda keluarkan secara maksimal saat kampanye tapi Anda tetap kalah di Pemilu. Kalau galaunya biasa sih it's ok, never mind, but if unstopable, bisa dikatakan Anda mengalami galau tingkat dewa.

Galau, sebagai sebuah istilah, akhir-akhir ini secara populer diasosiasikan dengan berbagai perasaan bingung, gundah, atau cemas yang timbul karena lika-liku dunia percintaan. Paling tidak, seperti itulah saya melihat anak-anak sekolah memaknainya.

Bukan hanya dalam percintaan, dunia dengan aneka sisi kehidupannya memang terkadang membuat kita terpuruk. Sulitnya mendapatkan pekerjaan, kemiskinan yang terus meililit, atau penyakit yang tak kunjung sembuh kerap mendorong seseorang mengakhiri hidupnya dengan cara mengenaskan!

Galau jadi presiden adalah sifat yang sangat manusiawi. Kita tidak akan menemukan seekor ayam pun menangis tersedu-tersedu melihat anaknya mati disembelih sang majikan. Pun kita tidak akan melihat seekor rusa terjun ke dasar jurang demi menjumpai kekasihnya di akhirat yang mati ditembak pemburu.

Setiap kita pasti pernah merasakan galau, meski dalam kadar yang berbeda-beda. Kita pun memiliki cara masing-masing bagaimana menjalani dan mengatasinya.

Sebagian mengatasi kegalauan dengan melakukan hobi-hobi mereka, seperti menulis, membaca, atau nonton film-film kartun kegemaran. Sementara yang lain lebih suka menghabiskan masa-masa galau dengan mendekam di kamar, menyendiri sambil merenungi nasibnya yang kian remuk-redam seperti bom waktu yang bisa menghujam jantung.

Apa pun biang keladinya serta bagaimana mengatasi kegalauan, kita sepakat bahwa kegalauan harus segera diakhiri. Tidak ada yang salah dengan galau. Yang salah adalah ketika kita membiarkan kegalauan-kegalauan tersebut terus berkecamuk di dalam hati. Dan bersyukurlah jika kita dihinggapi perasaan galau, karena itu artinya kita benar-benar manusia bukan gerandong.

Kegalauan pasti ada akhir seprti itu pula kehidupan. Masa galau berakhir dengan keceriaan atau kebahagiaan dan kebahagiaan akan menemukan kegalauan, begitulah kehidupan.

Mengakhiri tulisan pendek ini, izinkan saya mengutip sebuah pesan yang sangat inspiratif dari Robert H. Schuller yang ia gunakan sebagai judul salah satu bukunya yang populer.

Tough times never last, but tough people do!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar