Selasa, 08 April 2014

Anomali Jelang Pemilihan Umum

Pemilihan Umum sudah di depan mata, siapapun tidak bisa mengelak, perjuangan para caleg untuk menduduki tahta atau kursi di DPR memang harus terhenti dan menerima kenyataan yang ada. Masyarakat pun tidak bisa menolak pemberian amplop, sembako, dan barang-barang lainnya dari para caleg karena maksud mereka baik.






Pemilihan umum sudah di depan mata, siapapun tidak bisa mengelak kecuali Anda Golput. Namun, yang saya akan bahas di sini bukan serangan fajar pemilu atau tentang kenaikan sembako atau harga BBM. Yang akan saya bahas di sini adalah tentang beberapa Anomali atau keanehan yang biasanya terjadi jelang Pemilihan Umum.

Ada beberapa anomali yang diambil dari informasi dan berita di harian umum pikiran rakyat hari ini (08/04/14). Anomali-anomali jelang pemilihan umum tersebut antara lain:

Bank kehabisan recehan, hal ini dijelaskan oleh Kepala Kantor Bank Indonesia Cabang Purwokerto, Rahmat Hernowo. Menurut catatan di Bank, peningkatan yang signifikan terjadi jelang pemilihan umum. Pada Januari 2014, uang pecahan Rp. 100.000,00 yang ditukarkan ke dalam pecahan yang lebih kecil mencapai Rp. 119 Miliar. Sementara uang Rp. 50.000,00 yang ditukarkan kedalam uang kecil mencapai Rp. 131 Miliar.

Pada bulan Maret 2014, jumlah uang yang ditukarkan masing-masing mencapai 210 miliar rupiah dan 227 miliar rupiah.

Anomali lainnya adalah Bensin dan Pulsa jelang pemilihan umum sehingga masuk daftar 10 penyumbang terbesar inflasi di Banyumas pada bulan Februari. Dan yang terakhir adalah Mukena padahal biasanya mukena dibeli orang saat bulan ramadhan atau menjelang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Anomali tersebut jelas nampak dan terlihat karena akibat maraknya politik uang (Money Loundring). Apakah wajar atau tidak, hal tersebut kembali kepada diri kita masing-masing. Bagaimana dengan pandangan Anda? Share di sini yah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar