Kamis, 03 April 2014

Belajar Dari Komik

Mendidik anak gemar membaca dan menulis memang sangat sulit sekali, terlebih ketika semakin menjamurnya permainan video game atau film-fiilm animasi yang semakin membuat malas anak untuk beranjak dari tempat duduknya.




Belajar dari komik adalah salah satu cara mendidik anak supaya gemar membaca dikemudian hari. Seperti anak saya, yang hobinya nonton spongebob, si Dora, Doraemon Nobita, dan Masha and The Bear, sangat sukar sekali beranjak dari karpet merah karena sudah kecanduan film kartun dan animasi.

Adakalanya anak kita perlu dibelikan sebuah komik dari sejak dini agar terbiasa dengan buku dan siapa tahu kebiasaan gemar membaca jadi sebuah keharusan untuk memperoleh wawasan keilmuan yang tinggi. Seperti kata Joe The Big Bang Marvelous Alfaraby menuturkan penulisannya dibawah ini lewat sebuah tangan besi dan alunan kecapi sulingnya.

Komik adalah sejenis bacaan yang menitikberatkan pada aspek visual berupa gambar-gambar ilustrasi umumnya berbentuk kartun dan semacamnya. Bagian teks digunakan untuk mendeskripsikan sebuah adegan atau merepresentasikan ucapan dan pikiran berbentuk bubble talks tokoh-tokoh yang terlibat dalam komik tersebut.

Aspek visual inilah yang membuat karya-karya komik begitu menarik. Komik bisa dijadikan alternatif bagi para orang tua yang ingin membiasakan buah hati mereka gemar membaca, mengingat anak-anak umumnya sangat menyukai gambar. Komik-komik yang diberikan tentu saja yang sesuai dengan usia mereka.

Menurut saya, salah satu kekurangan komik mungkin ialah adanya keterbatasan imajinasi dan asosiasi ketika kita menggambarkan latar, adegan, serta tokoh-tokoh dalam komik tersebut. Para pembaca komik seolah "dipaksa" memberi gambaran-gambaran seperti yang diinginkan si pembuatnya.

Namun, kekurangan komik di atas malah bisa jadi hal lain yang membuatnya banyak digemari. Kita tidak perlu repot-repot membuat gambaran-gambaran imajinatif tersebut. Semua yang tersaji tinggal kita nikmati sambil menerka-nerka bagaimana si komikus menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi sang tokoh utama.

Ini berbeda dengan karangan-karangan non-fiksi lain seperti cerpen, novel, atau roman. Para pembaca novel Harry Potter karya J. K. Rowling, misalnya, akan memiliki penggambaran yang berbeda-beda tentunya sebelum mereka menyaksikan versi layar lebarnya tentang sosok utama novel tersebut, Harry Potter, anak yatim piatu yang memiliki kekuatan sihir menakjubkan.

Menjadi komikus, selain harus pandai mengarang cerita, pun dituntut memiliki kemampuan membuat gambar-gambar ilustrasi. Apabila hanya syarat pertama yang bisa Anda penuhi, tidak ada salahnya Anda meminta bantuan teman yang kebetulan jago menggambar. Hasilnya bisa dibagi rata.

Saat ini, cerita-cerita komik banyak yang telah diangkat ke layar kaca dalam bentuk serial animasi, seperti komik Dragon Ball (Akira Toriyama) dan Naruto (Masashi Kishimoto) yang sengat fenomenal itu.

Meski dilayarkacakan, komik-komik tersebut tetap diminati karena sifatnya yang mendahului (terbit) serta banyak bagian cerita yang hanya dapat dinikmati dalam bentuk komiknya.

Pada era 80-an, industri komik Indonesia pernah mengalami kejayaan. Beberapa judul komik saat itu yang masih saya ingat adalah: Labah-labah Mirah, Gundala, Gareng dan Petruk, serta Panji Tengkorak. Dan kalau sekarang yang sedang ngetren di layar televisi adalah Bima.

Kita berharap, suatu saat nanti akan lahir komikus-komikus lain di tanah air kita dengan cerita serta karakter tokoh yang jauh lebih unik dan orisinal, menyaingi komik-komik dari luar. Karena komik, dengan gambar-gambar visualnya, selain menarik dan menghibur, juga dapat dijadikan media untuk menyosialisasikan keragaman budaya Nusantara ke seluruh belahan dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar