Kamis, 03 April 2014

Guruku Pahlawanku

Guruku Pahlawanku, bagaimana tidak, guru sebagai sosok malaikat pendamping, malaikat penolong, dan malaikat penentu seseorang anak adam bisa membaca, menulis, dan memainkan alat musik. Guruku pahlawanku adalah cinta  yang tak pernah lekang oleh waktu seperti kata Kerispatih.





Guru adalah sosok penting dalam kehidupan setiap orang. Melalui mereka kita menjadi makhluk Tuhan yang pandai membaca, menulis, dan berhitung. Bukan hanya itu, berbagai hikmah, kearifan, dan kebijaksanaan kita reguk pula dari mereka.

Guruku pahlawanku merupakan predikat yang sangat dihargai di belahan dunia mana pun. Meski demikian, tugas berat sekaligus maha penting profesi guru tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan mereka, paling tidak, di tanah air kita tercinta, Indonesia.

Sangat sering kita menyaksikan sosok-sosok "Oemar Bakri" meminjam istilah Iwan Fals berpeluh keringat dan berpacu dengan waktu demi menafkahi keluarga dengan tetap mendedikasikan sebagian waktu berharga mereka menanam benih-benih kecerdasan di otak dan hati generasi pelanjut siklus kehidupan.

Saya bersyukur, jika dibandingkan dengan beberapa teman saya, dapat mengecap pendidikan hingga perguruan tinggi, merasakan nikmatnya sel-sel otak yang meloncat-loncat kegirangan, penuh rasa bangga dan kekaguman ketika secuil misteri Ilahi terkuak.

Kenikmatan-kenikmatan itu terus berlanjut seiring dengan bermunculannya keisengan-keisengan filosofis spekulatif di benak saya, meski sebagian besar harus menguap, diterpa angin kebodohan yang masih melekat di dinding-dinding otak.

Selain kemampuan berfikir akademis, melalui guru kita belajar pula bagaimana menggali dan mengembangkan potensi yang kita miliki serta berbagai kecakapan hidup lainnya. Mulai dari cara berpakaian, menjaga kebesihan, berkomunikasi dengan orang lain, hingga cara menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan nyata.

Guru yang pernah mengajar dan mendidik kita, akan selamanya menjadi guru, sebagaimana ayah dan ibu yang akan tetap menjadi orang tua kita. Kita tidak mengenal istilah "mantan guru" sebagaimana kita tidak mengenal istilah "mantan ayah kandung" atau "mantan ibu kandung".

Dalam banyak hal, sosok guru memang tidak jauh berbeda dengan sosok orang tua. Penghormatan yang kita berikan kepada orang tua pun seduah selayaknya dipersembahkan bagi guru-guru kita.

Salam takzim, hormat, dan cinta untuk guru-guruku. Engkau telah dan akan selalu menjadi inspirasiku dalam memaknai hidup yang hanya selenggang ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar