Jumat, 04 April 2014

Membatasi Peran Perempuan Di Dunia Kerja

Mengajari anak menghapal sebuah lagu atau doa-doa yang islami memang perlu keuletan khusus. Dalam hal ini, sang Ibu lah yang sangat berperan utama dalam mendidik dan mengajarkan seorang anak berbagai macam hal.





Perhatian yang khusus dan penuh kasih sayang hanya didapatkan oleh seorang Ibu, jika ada anak yang sedari kecil sudah diurus oleh Baby sitter atau pembantu dalam rumah tangga memang kurang signifikan terhadap tumbuh kembang kecerdasan anak karena proses mendidik mereka bukan dari pendekatan hati yang terdalam.

Jadi jangan heran kalau semakin hari banyak anak yang suka ditelantarin oleh seorang ibu karena berbagai macam kesibukan untuk mengais rejeki atau meniti karier. Walhasil, ketika anak beranjak dewasa, bukan tidak mungkin banyak anak yang tidak memiliki kepedulian sosial tinggi, tidak memiliki kecerdasan yang maksimal karena para orang tua lalai dalam mendidik anak.

Bukan menyalahkan seorang ibu, namun kenyataan hidup jaman sekaranglah yang memaksa mereka untuk bekerja ekstra di luar demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah?

Kalau pemerintah berniat ingin mencerdaskan kehidupan generasi penerus bangsa, berbagai kebijakan harus ditempuh seperti;

Memberdayakan kinerja para lelaki dengan tidak mengeksploitasi perempuan, karena ruh perempuan adalah sebagai ibu rumah tangga dikemudian hari. Seharusnya perempuan tidak diberdayakan di berbagai perusahaan. Hakikat perempuan adalah dirumah mengurus dan mendidik anak supaya mereka menjadi calon generasi kuat penerus bangsa.

Memberdayakan perempuan boleh-boleh saja tapi ada batasan dan bidang-bidang apa saja yang sebaiknya mereka ikuti dengan tidak mengurangi waktu mereka dikeluarga.

Kesalahan patal jika sekarang ini banyak perempuan yang diberdayakan di berbagai perusahaan, bagaimana nasib anak yang seharusnya memiliki hak mereka untuk merasa dididik oleh sang bunda tercinta.

Apa bisa lelaki menggantikan posisi kinerja perempuan di berbagai perusahaan atau pabrik? Jika ketegasan regulasi dan berbagai kebijakan pemerintah diterapkan, semua bisa dilakukan karena hakikat kaum lelaki adalah mencari nafkah untuk keluargadan tugas utama mendidik anak dirumah ada ditumpuan sang ibu.

Kenyataan sekarang memang tidak demikian, butterfly effect dari diberdayakan perempuan dalam dunia karier dan pekerjaan sangat banyak antara lain;


  1. Banyak perselingkuhan karena berbagai macam alasan yang sebetulnya kesalahan ada dikebijakan pemerintah yang memberdayakan perempuan.
  2. Banyak perceraian dalam rumah tangga yang sangat merusak moral dan psikologis anak.
  3. Banyak pengangguran karena kaum lelaki banyak sekali yang tidak diberdayakan, kalau perempuan itu tidak dikatakan pengangguran berbeda dengan kaum laki-laki karena tugas utama mereka adalah menjadi ibu rumah tangga.

Kalau kebijakan pemerintah tidak tegas dan tidak ada ujungnya, sampai sekarang niat untuk mencerdaskan generasi tidak akan mungkin tercapai karena didikan awal sedari kecil dikeluarga itulah yang akan menentukan masa depan anak bangsa menjadi generasi emas.

Jika hanya sumbangsih di dunia pendidikan wajar sembilan tahun saja, saya sebagai salah seorang guru tentu sangat mengetahui bagaimana tingkat kecerdasan seorang anak. Kebijakan pemerintah setempat telah memonopoli setiap sekolah, nilai kelulusan seorang pelajar banyak dimanipulasi dan sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Tujuan mereka hanya ingin memiliki nama baik dan dipuji kalau nilai rata-rata sd di kabupaten A baik. Apakah kenyataannya seperti itu? Zero dan kualitas anak sebenarnya jauh dari yang diharapkan.

Oleh lkarena itu pendidikan awal sangat menentukan tumbuh kembang kecerdasan anak, bagaimana solusinya? Membatasi peran perempuan di dunia kerja, biarlah lelaki yang bekerja karena itulah hakikat kehidupan sebenarnya. Bagaimana menurut pandangan Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar