Kamis, 03 April 2014

Nilai Sebuah Buku Bekas

Nilai sebuah buku tidak bisa dibandingkan dengan produk atau merk-merk lain seperti Laptop, Tas, dll. Nilai sebuah buku tidak tergerus jaman, sebenarnya tidak ada yang namanya buku bekas, meskipun itu buku bekas, tetap saja buku menjadi jendela informasi yang baik bagi masyarakat.


Nilai Sebuah Buku menurut penuturan sahabat saya lewat penerangan mak lampir dan embah gandrong. Kemudian beliau mampir ke situ bagendit untuk melakukan tapa geni dan tepo seliro. Menurut hasil penerawangan dunia lain dan misteri alam gaib, Joe The Marvelous Alfaraby menuturkan pemahamannya mengenai nilai sebuah buku bekas.

Yang saya maksud dengan buku bekas bukanlah karya-karya penulis yang telah meninggal atau yang diterbitkan jauh sebelum kita lahir. Tetapi buku yang sudah digunakan (bekas pakai) orang lain dan, bisa jadi, telah berkali-kali ganti pemilik sebelum akhirnya berjejer di tikar-tikar dan rak-rak penjual eceran atau sampai ke tangan kita.

Tidaklah adil menilai kualitas sebuah buku dari segi bekas atau barunya. Nilai sebuah buku sudah seharusnya dilihat dari isi atau buah-buah pikiran yang diungkapkan masing-masing penulisnya.

Buku-buku bekas tidak harus kumal, dekil, atau berdebu, meski umumnya dijual dengan harga lebih murah dibandingkan dengan harga yang dipatok toko-toko buku besar. Harganya yang murah ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para penghobi buku.

Di tempat saya, Bandung, paling tidak ada dua tempat yang bisa kita kunjungi untuk berburu buku-buku bekas, yakni di Jl. Dewi Sartika, dekat Stasiun Kebon Kalapa, dan di Jl. Asia Afrika, dekat dengan Gedung merdeka.

Sewaktu masih kuliah, kedua tempat ini sering saya datangi. Jika uang di saku memungkinkan, lima hingga sepuluh buah buku bekas bisa saya bawa pulang. Beberapa kali, sebagian uang kuliah pernah juga saya gunakan untuk mendapatkan sebuah buku lawas yang saya yakin akan segera berpindah tangan jika saat itu tidak saya beli.

Bagi mereka yang hobi membaca, kehadiran buku-buku bekas ini tentu memberikan keuntungan tersendiri, paling tidak secara ekonomis. Namun, saya sering bertanya-tanya dalam hati, "kenapa sampai ada buku bekas?".

Perkiraan saya, buku-buku bekas mungkin berasal dari si pemilik yang menganggapnya tidak diperlukan lagi. Kasus seperti ini misalnya dapat kita lihat dari kebiasaan mengoleksi buku-buku para mahasiswa tingkat akhir untuk mendukung keilmiahan skripsi yang akan mereka susun.

Setelah gelar sarjana berhasil disandang, beberapa di antara mereka menjual buku-buku tersebut, entah untuk merayakan kelulusan, untuk ongkos pulang kampung, ataupun buat modal usaha.

Buku-buku bekas bisa juga berasal dari penghobi buku yang terpaksa harus menjual sebagian atau seluruh koleksinya karena himpitan ekonomi.

Terlepas dari itu semua, buku bekas tidaklah sama dengan mobil, motor, atau laptop bekas. Karena nilai sebuah buku tidak akan berkurang sedikit pun semata-mata karena ia bekas pakai.

1 komentar: