Jumat, 02 Mei 2014

Kontrak Politik Buruh Dengan Calon Presiden Indonesia

Adanya hari buruh sedunia yang jatuh pada hari kemarin, Kamis 1 Mei 2014 memang menjadi momentum yang tepat bagi kaum buruh untuk melakukan kontrak politik buruh dengan calon presiden Indonesia nanti. Kaum buruh harus memiliki satu visi dan misi dalam menentukan pilihan dengan melihat dan memperhatikan siapa calon presiden nanti yang mau menerima dan menyetujui tuntutan mereka.





Menurut berita yang saya lihat di salah satu stasiun televisi, setidaknya ada 10 kontrak politik buruh atau perjanjian politik yang ditandatangani calon Presiden terkuat dari Partai Gerindra, Prabowo subianto.
Antara lain, Upah yang layak, hapuskan outsourching (Sistem Kontrak), angkat guru honorer jadi PNS, pengadaan perumahn yang murah dan terjangkau untuk kaum buruh, dan lain-lain.

Dari tiga calon presiden yang didatangi para pimpinan buruh di Indonesia, hanya Prabowo Subianto yang menyetujui dan menandatangani kontrak politik yang disaksikan sekitar delapan puluh ribu buruh di stadion Gelora Bung Karno Jakarta kemarin.

Persaingan dan kompetisi Calon Presiden Indonesia semakin ketat. Prabowo mendapat dukungan besar dari kaum buruh memanfaatkan momentum hari Buruh Internasional. Kontrak politik yang ditandatangani Prabowo memang itu fakta di lapangan bahwa pada kondisi sekarang kaum buruh masih termarjinalkan, guru honorer masih belum hidup layak dan bahkan ada yang mendapat honor 90 ribu rupiah selama sebulan dia mengajar.

Masih banyak para buruh yang sudah bekerja bertahun-tahun dan memiliki anak masih saja ngekos karena jangankan buat nyicil rumah yang harganya selangit, buat makan saja mereka pas-pasan. Begitu pun dengan guru honorer, ketika Guru PNS dimanjakan oleh berbagai tunjangan seperti pensiunan, sertifikasi dan gaji ke 13, guru honorer hanya bisa menghela nafas panjang dan mencium bangku sekolah.

Sipakah Presiden yang pantas untuk memimpin Indonesia? Hanya orang yang mau hidup sederhana dan lebih mementingkan kaum buruh dan guru honorer. Siapa yang menghilangkan outsourching dengan kontrak tetap, mengangkat nasib guru honorer yang sudah puluhan tahun mengabdi di sekolah-sekolah negeri maupun swasta, memberikan perumahan yang murah dan layak bagi kaum buruh, dan mau hidup sederhana dan kerja keras turun ke lapangan. Pasti calon presiden tersebut akan menjadi calon presiden idola masyarakat buruh dan guru honorer.

Kepemilikan rumah adalah indikator kesejahteraan buruh di Indonesia. Hidup kaum buruh, tetaplah bekerja dan berusaha karena setiap usaha pasti ada hasilnya jika kalian memilih penentu kebijakan dengan tepat. Nasib kaum buruh harus terus diperjuangkan sampai mereka hidup layak dan sejahtera. Kesejahteraan rakyat adalah tugas penentu kebijakan bukan sebaliknya mensejahterakan penentu kebijakan.

Pilihlah Calon Presiden yang mendukung kesejahteraan buruh dan guru honorer seratus persen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar