Sabtu, 28 Juni 2014

Revolusi Mental dan Revolusi Iman

Kadang kekhilapan terjadi bukan karena kebutuhan akan tetapi karena situasi yang memaksa diri kita terjerumus kedalam nafsu bejat setan yang terkutuk. Aku mungkin terlalu sibuk dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan uang dan kehidupan. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan dan rutinitas kantor yang sehari-hari semakin memperluas jarak antara saya dan suami saya.

Tugas seorang istri itu memang cukup berat dan penuh tanggung jawab baik untuk suami, untuk anak, dan karir. Kisah seorang istri yang solehah, baik hati, dan memiliki hati seputih mutiara. Karena kekhilapan suaminya Mas Bram yang tega berbuat selingkuh dengan seorang gadis yang lebih muda Karin.



Janin di kandungan Karin selingkuhannya Mas Bram semakin besar dan Karin semakin menjadi-jadi mengganggu dan mengusik rumah tangga Keluarga Hana. Mas Bram yang terbujuk nafsu setan berbuat bejat dengan Karin sehingga Karin Hamil. Karin pun meminta pertanggungjawaban Mas Bram untuk menikahinya.

Sepenggal kisah diatas adalah cerita sinetron yang tayang di salah satu stasiun televisi swasta. Sinetron yang sangat suka sekali ditonton oleh istri saya, dan saya pun harus mengalah karena tidak bisa menonton U-19 yang lagi main di stasiun televisi yang lain.

Kasus perselingkuhan sudah tak asing lagi bahkan di jaman sekarang ini semakin menjadi-jadi jika kita tidak dibekali keimanan yang kuat. Revolusi keimanan memang harus ditingkatkan tidak hanya Revolusi mental saja yang diusung oleh salah satu calon presiden Indonesia nanti.

Revolusi mental harus dibarengi dengan revolusi iman. Banyak sekali orang bahkan umat Islam sendiri goyah keimanan mereka karena terbuai kesenangan dunia. Mentalnya memang sekuat terumbu karang namun, keimanannya sangat lemah.

Banyak sekali orang bahkan di kalangan umat Islam sendiri mudah kena suap, mau disogok demi mendapatkan manfaat atau keuntungan sesaat padahal sungguh merugikan banyak umat. Revolusi mental harus dibarengi dengan Revolusi iman agar manusia menghargai apa sebenarnya makna kejujuran dan akhlak.

Seperti kisah sinetron diatas, bertubi-tubi cobaan dan rintangan kehidupan menghinggapi Hana seorang istri yang sangat taat sama suami meskipun nyata dia telah diselingkuhi suaminya. Namun berbekal keimanan, kesabaran, dan keyakinan pada Alloh swt dan selalu memiliki pikiran positif menjadikan Hana sosok seorang istri yang sangat tegar dan penuh keikhlasan menjalani kehidupan. Mudah-mudahan di bulan puasa ini kita lebih mendalami revolusi iman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar