Sabtu, 20 September 2014

Dokter Telatan

Mudah-mudahan Saja Dengan hadirnya presiden Indonesia yang baru, bukan dari masa lalu, bukan dari antek jaman dahulu, ini baru dan mudah-mudahan berbuntut kepada Indonesia baru yang lebih bersih, lebih berakhlak, lebih disiplin, lebih bermoral, dan tentunya lebih peka terhadap masyarakat yang tidak mampu baik dari segi pelayanan maupun penghargaan.

Bukan ingin dihargai tetapi ingin disama ratakan dengan manusia biru lainnya, memang enggak mungkin, tetapi jika kita mau maju, hargai dan layani masyarakat kurang mampu dengan baik. Jika Anda ingin banyak dihormati, didoai yang baik-baik, dan diberkahi Alloh swt, maka berikanlah manfaat semaksimal mungkin buat orang lain.

Mengenai masalah kedisiplinan, Indonesia memang sangat jauh dari segi menghargai waktu, apalagi jika menyangkut masalah pelayanan publik. Saya kira sebagai pegawai negeri yang baik sepatutnya harus mengutamakan kedisiplinan. Namun, itulah Indonesia, sudah basi kalau ngomong masalah tentang disiplin, masalah korup, dan masalah moral.

Saya adalah korban ketidakdisiplinan Sang Pelayan Publik yang seharusnya hidup sebagai mutiara bukan sebagai batu hitam, melempem kelihatannya. Hari selasa kemarin, 16/09/2014. Saya kebetulan kena penyakit Gejala panas tinggi dari semalaman, kemudian pagi-nya saya pergi ke Rumah Sakit Nambo yang ada di Jl. Banjaran.

Dari jam 6 Pagi saya nunggu di lobi, dan saya dapat antrian No. 22. Bayangkan, pagi-pagi sekali sudah ada antrian 22 orang. Menunggu itu membosankan apalagi badan saya yang enggak enak, panas dingin menyengat, kepala pusing, dan mulut sepertinya terasa pahit sekali. Dengan ditemani sepotong roti dan sebotol aqua, saya terus menunggu kapan mulai dibuka.

Kata penjaga kebersihannya sih katanya Rumah Sakit mulai dibuka jam 08.00 pagi. Oke saya menunggu sampai jam 08.00 WIB, tapi pintu dokter enggak buka-buka juga. Mereka tidak sadar apa tidak tahu kalau diluar sudah banyak orang sakit ngantri, dan saya ingat jam 08.00 pagi antrian sudah mencapai kira-kira 50 orang lebih.

Sakit memang tidak bisa dikompromi, tapi mereka pelayan publik yang mengaku dokter pelayan masyarakat yang makan gaji negara, gaji dari rakyat apa enggak takut diminta pertanggungjawabannyadi akhirat. Bagaimana kalau ada yang meningggal ketika menunggu berobat. Mending kalau kita orang berada, bisa langsung ke Rumah Sakit Swasta yang pelayanannya serba cepat dan tanggap.

Wajah Rumah Sakit Umum yang dokternya makan gaji rakyat, sudah biasa kali lelet. Tapi saya berharap sekali hadirnya Jokowi, membawa ketakutan yang dalam buat mereka para pejabat dan pegawai pemerintah yang kurang disiplin dan tidak peka terhadap publik.

Sang Dokter tiba di Rumah Sakit jam 09.00 WIB, dan mereka mondar-mandir dulu kesana-kemari kaya orang yang belagu dan ongkang-ongkang kaki lewat ditengah orang-orang yang menanti pelayanan kesehatan yang terbaik. Dan Dokter itu baru memeriksa pasien mulai jam 09.30 WIB, Sungguh sangat telatan yang katanya mulai buka pukul 08.00 WIB.

Sudah sejam setengah para dokter itu korupsi waktu. Apakah mereka tiap hari begitu? Mudah-mudahan sih enggak, masa tiap hari, kalau tiap hari kaya begitu, dokter apaan? Mungkin dokter Telatan kali. Dalam hati sambil menahan sakit yang sangat, saya bergumam “Indonesia enggak akan maju maju, toh para ahli-ahli dan pejabat-pejabatnya pun korupsi waktu”

Ya sudahlah nasi sudah jadi bubur, toh saya sudah diperiksa Dokter Telatan, dan alhamdulillah baru hari ini bisa sedikit menghela nafas panjang dan menuliskan kisah pesakitanku. Bagi Anda, mudah-mudahan selalu diberi kesehatan jasmani dan rohani, karena ternyata sakit itu memang perlu perjuangan bathin yang keras, kecuali anda Kaya anda bisa berobat sesuka hati anda.

Akan tetapi, jika anda biasa seperti saya, jagalah kesehatan dengan baik, dan kalau pun sakit, bersabarlah menghadapi para pelayan publik yang terkadang menyiksa batin kita. Mudah-mudahan kita semua diberikan kekuatan dan ketabahan, amiin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar