Senin, 02 Maret 2015

Perjuangan Pangeran Dipenogoro

Kisah perjuangan Pangeran Dipenogoro ini memang akl-akalan bulus tim penulis Es Teller, sebagai bagian dari hiburan dan guyonan asyik sekligus sebagai lelucon jenaka. Tidak ada mksud untuk menjelekanatau menertawakan seseorang, itu semua murni sebagai suatu kenangan manis terindah sebagai kado spesial untuk Hari Besar Umat Nabi Nuh.


Pada Tahun 1825 M, tepat setelah Shalat Magrib dan sebelum isya  sampai tahun 1830 Masehi,ada yang tahu enggak pernah terjadi perang apa? Yap, betul, perang Paderi yang dipimpin oleh pasukan Dipenogoro melawan Penjajah Belanda.

Pangeran Dipenogoro yang bernama asli Hikmat Wijaya Saputra ini mengumpulkan 1000 bala pasukannya di kelas XII angkatan 2013 dilapang Futsal Almarwah bersama Patih Gajah mada (Adi Kurniadi), Hayam wuruk (Aris Heryanudin), dan Mpu tantular (Ikbal Taufik). Mereka berunding untuk mengatur strategi penyerangan kepada penjajah Belanda yang dipimpin oleh Demang Jejen Van DeBonk bersama Adipati Yuda Van Basten.

Setelah perundingan selesai dan strategi siap diejawantahkan, malam harinya sebelum besok terjadi Perang Paderi, Pasukan Dipenogoro berkumpul di Aula Kesultanan Yogyaarta yang kala itu sultannya adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IV (Mas Fikri Nuralam). Merek melakukan persiapan pemandian senjata seperti keris, kujang, pedang langit, dan pedang pembunuh naga sebagai simbol keikhlasan masyarakat untuk menjunjung tinggi tanah air Indonesia.

Tak lupa prosesi pemandian peralatan perang diselingi oleh pementasan penari topeng yang dipandu oleh Nyimas Ratu Selatan Nyi Roro Kidul (Anggita Putri) bersama rekan-rekannya dari sanggar Manuk Dadali.

Kehadiran semua masyarakat menjadi pelecut semangat perang yang besok tak terelakan lagi. Senjata pribumi seperti Keris, Kujang, Alat pecut Kuda, dan Arit memang kalah jauh dibandingkan peralatan perang Belanda yang sudah sedikit Modern antara lain; Tank Abramm, Meriam Canon, Senjata tembak laras panjang MK-44, dan pesawat Helikopter yang ditemukan oleh Wright bersaudara.

Namun, Pangeran Dipenogoro tidak gentar, mereka punya satu keyakinan kuat dan sangat teguh, berbekal tongkat Nabi Musa yang bisa berubah jadi Ular, dengan Kendaraan Awan Kinton milik Son Goku, insyaalloh Pangeran Dipenogoro (Hikmat Wijaya) Menang karena dia punya Doraemon dengan kantong ajaibnya dan punya Gatot Kaca dengan Urat kawat Tulang Semen.

Sang isteri Pangeran yang nan cantik jelita bernama Ratu Adil (Nissa Tokiarika) memang khawatir terhadap keselamatan diri sang Pujaan Hati. Sang Ratu Adil pun terus memanjatkan doa keselamatan semalam suntuk untuk kemenangan Pangeran Dipenogoro meskipun sulit melawan peralatan canggih Belanda.

Sang Ratu percaya bahwa Semar Badranaya (Windi sanjaya) dan anak-anaknya yang tergabung dalam Punakawan seperti Gareng (Uci sanusi). Petruk Dewala (Renaldi Nurjaman, dan Si gigi ompong Cepot (Nendi Suryana) akan membantu prosesi perjuangan sang Pangeran Arjuna.

Untuk selanjutnya mungkin sebegitu saja dulu ceritanya, jika ada penokohan yang sama dan berulang memang itu bukan bikinan manusia tapi gerandong. Mohon maaf jika ada tokoh mirip yang dimasukan, bukan bermaksud menyinggung atau menertawai, tapi hanya sekedar untuk menghibur hati yang terluka oleh sayap dan panah cinta Sang Arjuna. Just for lough...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar