Minggu, 31 Mei 2015

Selamat Tinggal Sepakbola Indonesia

Publik Indonesia akan semakin rindu salah satu Hiburan Tanah air yaitu Perhelatan Sepakbola ISL buntut dari Hukuman FIFA terhadap PSSI sebagai wadah sepakbola tertinggi di Indonesia. Indonesia sudah tidak menjadi Anggota FIFA lagi menyusul hukuman tersebut, dan otomatis, kita juga kehilangan peran serta tim Sepakbola Indonesia di kancah internasional.

Yang paling merasa sedih dan kecewa tentu masyarakat bawah yang hanya menggantungkan hiburan di media televisi. Jangankan untuk hiburan ke luar negeri, ke tempat wisata di sekitarnya pun mungkin tidak bisa karena mereka masyarakat bawah bukan Pejabat yang setiap minggunya bisa mencari hiburan di manapun mereka mau.



Terus bagaimana nasib para pemain Bola lokal maupun non-lokal? Apakah mereka akan banting stir jadi tukang pijat atau tukang tambal ban. Bisa jadi mereka ada yang beralih profesi menjadi pedagang seblak, jus, baso, asongan, dll untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka selama kompetisi belum bergulir.

Satu-satunya hiburan gratis penghilang stres di tengah kondisi perekonomian Indonesia yang tak menentu adalah bisa melihat tim kesayangannya bertanding di kancah ISL. Yang terjadi, tidak ada tontonan paling menghibur selain Sepakbola.

Ada sih hiburan santai juga seperti Sinetron Preman Pensiun 2 RCTI. Akan tetapi, apakah menyentuh semua kalangan? Mungkin ada yang suka Sinetron atau ada juga yang tidak suka Sinetron. Yang namanya Sepakbola, kalau tim kesayangan sudah bertanding, jangankan Bapak-bapak, Ibu-ibunya pun malah lebih histeris dibanding Laki-laki. Pengalaman kalau nonton Persib bersama keluarga, bibi-bibi saya semua teriak-teriak kayak kesurupan ketika Persib mendapatkan peluang emas. Kalau Persib Kalah keluarga saya pada lesu seperti tidak berselera makan.

Begitulah fenomena yang terjadi ketika hiburan Sepakbola menjadi salah satu magnet tersendiri yang tidak bisa disejajarkan dengan hoburan-hiburan lainnya. Bisa jadi untuk tim kesayangan Anda, anda pun pasti demikian adanya. Jangankan tim asli daerah sendiri, kadang tim luar negeri yang dipavoritkan oleh kita, kita pun rela menonton mereka sampai harus bangun dini hari hanya untuk Nonton Liga Champion Eropa karena tim pavorit sedang bertanding.

Sampai-sampai kita dari sore harinya sudah menyempatkan tidur sejenak agar bisa begadang untuk menonton Sepakbola. Bahkan kita selalu menyiapkan bekal makanan entah itu Kacang Kulit, Kopi, Rokok, dan Minuman untuk tetap terjaga saat pertandingan. Itulah kisah Fans Fanatik Sepakbola.

Kembali ke Hukuman FIFA, entah itu salah siapa? Mana yang salah mana yang benar, bukti nyata adalah Indonesia dihukum FIFA, mau mengelak tidak bisa mau mencari kambing hitam memang kita semua adalah kambing hitam. Mudah-mudahan tidak berlarut-larut dan hanya menjadi busa di Lautan, kalau dibiarkan bisa-bisa masyarakat bawah stres, sudah dihadapkan dengan permasalahan hidup yang susah, mau makan enggak bisa nyolong singkong, mau beli minyak goreng enggak punya cukup duit, penghasilannya hanya bisa buat bayar listrik ke PLN, itupun selalu nunggak 2 Bulan pas 1 hari lagi mau dicabut PLN.

Kalau Hiburan Bola enggak ada karena Hukuman FIFA, mendingan dicabut aja deh PLN-nya, pakai Lilin aja biar hemat. Kalu nonton yang lain malah nyesek, banyak berita yang aneh-aneh penuh misterius, penuh kemusyrikan, penuh berita negatif yang bisa mencuci otak manusia menjadi buas dan tak terkendali.

Atau bagaimana jika FIFA yang kita Hukum? Kenapa kita enggak boikot tontonan FIFA di televisi, tapi ada enggak nyali dari semua stasiun televisi yang berani? Loh, emang FIFA salah? Ya jelas salah karena menghukum Indonesia menurut saya yang gaptek Hukuman FIFA dan gaptek Ilmu Rawa Rontek. Lol

Semoga Hiburan Sepakbola kembali lagi tayang jadi saya bisa pasang Listrik PLN lagi.

Artikel Terkait :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar